Saat bayi diare, langkah terpenting adalah mencegah kekurangan cairan: teruskan ASI atau susu seperti biasa, perhatikan tanda dehidrasi, lalu bawa ke dokter bila muncul tanda bahaya. Sebagian besar kasus berasal dari infeksi virus dan membaik dalam beberapa hari. Namun, tubuh si Kecil lebih cepat kehilangan cairan daripada orang dewasa. Karena itu, artikel ini membahas cara membedakan BAB normal dengan mencret, penyebabnya, perawatan di rumah, dan batas kapan Anda harus segera mencari pertolongan.
Seperti Apa BAB Bayi yang Termasuk Diare?
Menurut WHO (World Health Organization, Badan Kesehatan Dunia), seseorang mengalami diare bila buang air besar cair atau lembek tiga kali atau lebih dalam sehari, atau lebih sering dari kebiasaannya. Namun, WHO juga menegaskan bahwa tinja lembek seperti pasta pada bayi yang menyusu ASI tidak termasuk diare.
Hal ini penting karena pola BAB bayi memang berbeda. Menurut AAP (American Academy of Pediatrics, ikatan dokter anak Amerika Serikat), bayi ASI biasanya punya tinja lunak berwarna kuning muda, kadang dengan butiran kecil seperti biji. Bahkan, sebagian bayi BAB setiap kali selesai menyusu. Jadi, yang perlu Anda perhatikan adalah perubahan dari pola biasanya.
Kemenkes, lewat Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, menjelaskan tanda yang mirip: BAB menjadi lebih sering, lebih encer, lebih berbau, dan jumlahnya lebih banyak dari biasanya.
Penyebab Bayi Diare
Kemenkes membagi pemicunya menjadi kelompok ringan dan kelompok yang lebih serius. Berikut rangkumannya:
| Kelompok | Contoh penyebab |
|---|---|
| Umumnya ringan | Infeksi virus (paling sering rotavirus), intoleransi laktosa, susu formula yang kurang cocok, alergi makanan |
| Perlu pemeriksaan | Infeksi bakteri seperti Salmonella, E. coli, atau Shigella, serta infeksi parasit seperti giardiasis |
| Pemicu lain | Keracunan makanan setelah mulai MPASI, terlalu banyak jus buah, alergi obat, intoleransi susu sapi |
Selain itu, WHO menyebut air minum yang tercemar, sanitasi buruk, dan tangan yang kotor sebagai jalur penularan utama. Oleh karena itu, kebersihan saat menyiapkan MPASI pertama si Kecil ikut berperan besar.
Tanda Dehidrasi yang Perlu Diwaspadai
Bahaya terbesar dari mencret adalah tubuh kehilangan cairan. CDC (Centers for Disease Control and Prevention, lembaga pengendalian penyakit Amerika Serikat) menyebut bayi dan anak kecil sebagai kelompok yang paling rentan. Perhatikan tanda berikut:
- Popok basah lebih jarang dari biasanya, atau si Kecil lebih jarang buang air kecil.
- Mulut dan bibir tampak kering.
- Menangis dengan sedikit atau tanpa air mata.
- Rewel tidak seperti biasanya, atau justru sangat mengantuk dan lemas.
- Mata tampak cekung.
- Saat Anda mencubit lembut kulit perutnya, kulit kembali dengan sangat lambat.
Menurut WHO, kombinasi beberapa tanda di atas, terutama lemas, mata cekung, dan malas minum, menunjukkan dehidrasi berat. Dalam kondisi ini, si Kecil butuh pertolongan medis segera.
Cara Mengatasi Bayi Diare di Rumah
Pada kasus ringan, perawatan di rumah berfokus pada cairan dan nutrisi. Berikut langkah anjuran WHO, NHS, Kemenkes, dan AAP:
- Teruskan ASI. Pertama, jangan menghentikan ASI. Kemenkes justru menyarankan bayi di bawah 6 bulan menyusu lebih sering, karena ASI mengganti cairan dan mengandung antibodi.
- Jangan mengencerkan susu formula. Kedua, bila si Kecil minum susu formula, tetap buat dengan takaran biasa sesuai petunjuk kemasan. Jika ia muntah, berikan dalam porsi kecil tetapi lebih sering.
- Berikan oralit sesuai arahan tenaga kesehatan. Selanjutnya, WHO menyebut oralit sebagai penanganan utama diare. Kemenkes menyarankan oralit untuk bayi di atas 6 bulan; tanyakan cara pemberiannya ke dokter, bidan, atau puskesmas.
- Tanyakan soal zinc. WHO menyebut tablet zinc dapat mempersingkat diare, dan Kemenkes juga mencantumkannya dalam penanganan diare bayi. Namun, dosis dan lamanya harus mengikuti arahan dokter.
- Lanjutkan makan bila sudah MPASI. Kemudian, tetap tawarkan makanan bergizi. WHO menegaskan anak tetap perlu makan selama diare.
- Hindari obat antidiare tanpa resep. Terakhir, NHS (National Health Service, layanan kesehatan Inggris) meminta orang tua tidak memberikan obat penghenti diare kepada anak di bawah 12 tahun.
Ada satu perbedaan anjuran yang perlu Anda tahu. Kemenkes menyebut air tajin sebagai salah satu pilihan cairan untuk bayi di atas 6 bulan. Sebaliknya, AAP mengingatkan agar orang tua tidak meracik larutan elektrolit sendiri karena kadar garam dan gulanya bisa keliru. Jadi, bila ragu, pilih oralit kemasan dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Setelah itu, jaga kebersihan tangan Anda setiap kali selesai mengganti popok. Panduan 6 langkah cuci tangan yang benar bisa membantu mencegah penularan ke anggota keluarga lain.
Berapa Lama Diare pada Bayi Biasanya Berlangsung?
Lamanya bergantung pada penyebab. Pada infeksi rotavirus, CDC menyebut muntah dan diare berair dapat berlangsung 3 sampai 8 hari. Sementara itu, NHS menyebut diare pada anak dan dewasa umumnya berhenti dalam 5 sampai 7 hari.
Meski begitu, durasi bukan satu-satunya patokan. Bayi yang masih aktif, mau menyusu, dan popoknya tetap basah biasanya bisa Anda rawat di rumah. Sebaliknya, NHS menyarankan Anda segera mencari bantuan medis bila diare berlangsung lebih dari 7 hari.
Kapan Bayi Diare Harus ke Dokter?
Segera bawa si Kecil ke dokter, puskesmas, atau IGD bila Anda menemukan salah satu tanda berikut:
- Usianya 3 bulan atau kurang dan ia mengalami diare.
- Demam 38 °C atau lebih saat Anda mengukurnya lewat anus.
- Ada tanda dehidrasi, misalnya popok jauh lebih jarang basah.
- Ia menolak menyusu atau minum, tampak sangat lemas, atau sulit bangun.
- Muntah terus sehingga cairan tidak bisa masuk.
- Tinja berdarah, berwarna hitam, atau keputihan seperti dempul.
- Muntah berwarna hijau atau hijau kekuningan, atau ada darah di muntahnya.
- Diare tidak membaik setelah beberapa hari atau lebih dari 7 hari.
Bila mencret muncul bersama demam, Anda bisa membaca juga panduan batas suhu demam anak per usia. Selain itu, bedakan diare dengan gumoh yang umumnya normal, karena keduanya punya tanda bahaya yang berbeda.
Cara Mencegah Diare pada Bayi
Kabar baiknya, banyak kasus bisa Anda cegah dengan kebiasaan sederhana. WHO, Kemenkes, dan CDC menyarankan langkah berikut:
- Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama.
- Cuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan susu atau makanan dan setelah mengganti popok.
- Bersihkan botol susu serta peralatan makan MPASI dengan benar.
- Gunakan air minum yang aman dan jaga kebersihan rumah serta mainan.
- Tanyakan imunisasi rotavirus ke dokter atau puskesmas, karena CDC menyebutnya sebagai perlindungan terbaik dari penyakit rotavirus.
Bila Anda memberi ASI perah, simak juga kesalahan saat menyimpan ASI perah agar susu tetap aman untuk si Kecil.
Kesimpulan
Singkatnya, kunci menghadapi bayi diare adalah menjaga cairan: teruskan ASI, jangan mengencerkan susu formula, dan pantau tanda dehidrasi setiap hari. Hindari obat antidiare tanpa resep, lalu konsultasikan oralit dan zinc dengan tenaga kesehatan. Bila si Kecil berusia 3 bulan atau kurang, lemas, menolak menyusu, atau tinjanya berdarah, segera bawa ke dokter.
Sumber rujukan
- WHO. 2024. Diarrhoeal disease (fact sheet).
- Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI (Tim Promkes RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro). 2023. Berbagai Penyebab Diare pada Bayi.
- NHS. 2023. Diarrhoea and vomiting.
- CDC. 2024. About Rotavirus.
- American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org). 2015. Diarrhea in Babies.
Informasi di situs ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis, saran, atau perawatan dari tenaga kesehatan profesional. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter.
