MPASI pertama sebaiknya Anda mulai tepat saat bayi berusia 6 bulan, dengan makanan bertekstur lunak seperti bubur, kentang tumbuk, pisang, atau alpukat, dalam porsi kecil. Sejak awal, sertakan pula protein hewani seperti telur, ikan, atau ayam, dan jangan menambahkan gula maupun garam. Selama masa ini, ASI tetap menjadi sumber gizi penting. Artikel ini merangkum tanda bayi siap makan, isi menu MPASI pertama, tekstur sesuai usia, dan makanan yang perlu Anda hindari menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kementerian Kesehatan RI, dan layanan kesehatan Inggris (NHS).

Kapan Bayi Siap Mendapat MPASI?

Menurut IDAI, orang tua perlu memberikan MPASI tepat waktu, yaitu mulai usia 6 bulan, tidak lebih awal dan tidak terlambat. Pada usia ini, ASI saja tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan energi dan gizi bayi yang terus bertambah. Kemenkes juga menjelaskan bahwa bayi 6 bulan biasanya mulai tertarik pada makanan.

Selain usia, NHS menyebut tiga tanda kesiapan yang muncul bersamaan:

  • Bayi bisa duduk dengan kepala yang stabil.
  • Bayi bisa mengambil makanan dan memasukkannya ke mulut.
  • Bayi menelan makanan, bukan mendorongnya keluar dengan lidah.

Namun, NHS mengingatkan bahwa kebiasaan mengunyah kepalan tangan, lebih sering terbangun malam, atau minta tambahan susu adalah perilaku normal bayi. Tanda-tanda itu belum berarti bayi siap makan.

4 Prinsip MPASI Menurut IDAI

IDAI menjelaskan empat aturan penting agar MPASI benar-benar mendukung tumbuh kembang anak:

  • Tepat waktu: mulai saat bayi berusia 6 bulan.
  • Bergizi dan cukup: mengandung energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam porsi yang sesuai usia.
  • Bersih dan aman: siapkan makanan secara higienis agar tidak tercemar kuman penyebab diare. Biasakan juga mencuci tangan dengan benar sebelum menyiapkan makanan.
  • Responsif: perhatikan tanda lapar dan kenyang dari bayi, dan jangan memaksanya makan. Kebiasaan ini membantu anak membangun hubungan yang baik dengan makanan, sehingga lebih jarang susah makan di kemudian hari.

Kemenkes menyebut bahwa pedoman menu 4 bintang yang dulu populer kini tidak lagi sesuai anjuran WHO dan IDAI. Sebagai gantinya, Kemenkes menganjurkan menu MPASI lengkap yang berisi:

  • Karbohidrat, misalnya nasi, kentang, jagung, atau ubi.
  • Protein hewani, seperti daging sapi, ayam, ikan, dan telur.
  • Protein nabati, seperti tahu dan tempe.
  • Lemak sehat, misalnya alpukat.
  • Sayur dan buah sebagai sumber vitamin, misalnya wortel, ubi jalar, pepaya, dan brokoli.

Dari semua komponen itu, IDAI menekankan pentingnya protein hewani sejak usia 6 bulan. Pasalnya, telur, ikan, ayam, daging, dan hati mengandung zat besi yang mudah diserap tubuh, seng, serta vitamin B12. Menurut IDAI, bayi usia 6 sampai 24 bulan membutuhkan sekitar 10 sampai 12 gram protein per hari, kira-kira setara 2 butir telur kecil atau 4 sendok makan daging, ayam, atau ikan halus.

Selain itu, IDAI menyebut variasi lebih penting daripada satu jenis lauk saja. Faktanya, anak yang makan lebih dari satu jenis makanan hewani memiliki risiko stunting yang lebih rendah. Jadi, cobalah bergantian antara telur, ikan, ayam, daging, dan hati.

Tekstur MPASI Sesuai Usia

Kemenkes menganjurkan tekstur yang bertahap mengikuti kemampuan makan bayi. Berikut ringkasannya:

UsiaTekstur dan contoh makanan (Kemenkes)
6 sampai 8 bulanLunak, misalnya bubur, kentang tumbuk, pisang, atau alpukat
9 sampai 11 bulanLebih kasar, misalnya nasi tim, makanan cincang halus, dicacah, atau diiris
12 sampai 23 bulanMulai bisa makan nasi dan daging yang diiris-iris

NHS menambahkan bahwa Anda sebaiknya beralih dari makanan halus ke makanan lumat, bertekstur, atau bisa dipegang sendiri (finger food) begitu bayi mampu. Untuk cara memasak, Kemenkes menyarankan merebus atau mengukus, bukan menggoreng.

Berapa Banyak dan Seberapa Sering?

Pada awalnya, NHS menyarankan porsi kecil, cukup beberapa sendok teh, yang Anda berikan sebelum waktu menyusu. Selanjutnya, tingkatkan bertahap hingga sekitar 3 kali makan sehari pada usia 7 sampai 9 bulan. Sementara itu, Kemenkes menyarankan jadwal makan yang teratur dengan suasana yang menyenangkan.

Perlu Anda ingat, ASI tetap penting. WHO menganjurkan ibu terus menyusui hingga anak berusia 2 tahun atau lebih sambil memberikan MPASI. Karena itu, ibu juga perlu menjaga gizi dan cairan selama menyusui. Di samping itu, NHS menyarankan Anda mulai menawarkan beberapa teguk air dari cangkir saat makan. Baca juga panduan kapan bayi boleh minum air putih.

Makanan yang Perlu Dihindari

  • Pertama, jangan menambahkan garam ke makanan atau air rebusan. NHS juga menyarankan menghindari kaldu instan.
  • Kedua, hindari gula, termasuk sirup dan jus buah. Kemenkes juga menyarankan menghindari gorengan dan makanan berpengawet.
  • Selanjutnya, jangan memberi madu sebelum anak berusia 1 tahun. Menurut NHS, madu bisa mengandung bakteri penyebab botulisme pada bayi, yaitu penyakit yang sangat serius.
  • Kemudian, hindari kacang utuh pada anak di bawah 5 tahun karena berisiko membuat tersedak. Sebagai gantinya, NHS menyebut Anda boleh mencampurkan kacang yang sudah halus ke makanan sejak sekitar 6 bulan.
  • Terakhir, potong makanan kecil berbentuk bulat, seperti anggur atau tomat ceri, menjadi empat bagian.

Tersedak atau Hanya Refleks Muntah?

Saat belajar makan, bayi sering mengalami refleks seperti hendak muntah (gagging). Menurut NHS, tandanya antara lain mata berair, lidah terdorong ke depan, atau bayi tampak seperti mau muntah. Hal ini wajar karena bayi sedang belajar mengatur makanan di mulutnya.

Sebaliknya, tersedak berbeda dan membutuhkan pertolongan segera. Karena itu, NHS menyarankan Anda selalu mendampingi bayi saat makan dan mempelajari cara pertolongan pertama untuk bayi tersedak dari tenaga kesehatan.

Kapan Perlu Konsultasi?

Kemenkes menyarankan Anda mengenalkan makanan baru satu per satu sambil memperhatikan reaksi alergi, lalu menghentikannya bila bayi alergi terhadap makanan tersebut. Bila keluarga memiliki riwayat alergi, NHS menyarankan konsultasi lebih dulu sebelum mengenalkan makanan seperti kacang. Selain itu, Kemenkes menjelaskan bahwa keberhasilan MPASI terlihat dari kenaikan berat dan tinggi badan sesuai usia. Oleh karena itu, timbang dan ukur bayi secara rutin di posyandu atau puskesmas, dan konsultasikan bila pertumbuhannya tidak sesuai.

Kesimpulan

Singkatnya, MPASI pertama dimulai tepat di usia 6 bulan dengan tekstur lunak, porsi kecil, dan protein hewani sejak awal, tanpa tambahan gula, garam, maupun madu. Lanjutkan menyusui, naikkan tekstur bertahap, dan biarkan bayi menentukan kapan ia kenyang. Mulai hari ini, Anda bisa menyiapkan daftar lauk hewani yang mudah Anda temukan, seperti telur dan ikan, untuk menu pertama si Kecil.

Sumber rujukan

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Bukan Sekadar Kenyang: Pentingnya Protein Hewani dalam MP-ASI untuk Cegah Stunting.
  2. Kementerian Kesehatan RI. 2024. Ingin Si Kecil Tumbuh Optimal? Resep MPASI Lengkap Jawabannya!
  3. NHS. 2026. Your baby's first solid foods.
  4. NHS. 2026. Foods to avoid giving babies and young children.
  5. WHO. 2026. Infant and young child feeding.

Informasi di situs ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis, saran, atau perawatan dari tenaga kesehatan profesional. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter.