Demam anak harus ke dokter bila bayi berusia di bawah 3 bulan, bila suhu anak lebih dari 40 °C, atau bila muncul tanda bahaya seperti anak sulit bangun dan sesak napas. Di luar kondisi itu, sebagian besar demam bisa Anda pantau di rumah. Namun, banyak orang tua tetap bingung menentukan batasnya, apalagi saat musim hujan seperti sekarang. Artikel ini merangkum batas suhu menurut usia, tanda bahaya yang perlu Anda waspadai, dan cara merawat anak demam di rumah berdasarkan panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Berapa Suhu Anak yang Termasuk Demam?

Menurut IDAI, suhu tubuh normal anak berkisar antara 36,5 sampai 37 °C. Sementara itu, layanan kesehatan Inggris (NHS) menyebut anak mengalami demam bila suhunya 38 °C atau lebih. Agar hasilnya akurat, pastikan Anda mengukur suhu dengan termometer yang tepat, bukan hanya meraba dahi.

Perlu Anda ingat, IDAI menjelaskan bahwa tingginya demam tidak selalu menandakan beratnya penyakit. Demam adalah respons tubuh, salah satunya saat melawan infeksi, dan virus menjadi penyebab sebagian besar infeksi pada anak, yang tidak memerlukan antibiotik. Selain itu, demam juga bisa muncul setelah imunisasi atau karena anak memakai baju terlalu tebal saat udara panas.

Kapan Demam Anak Harus ke Dokter?

IDAI menyusun daftar kondisi ketika anak yang demam perlu Anda bawa ke dokter. Berikut ringkasannya menurut usia:

Usia anakBawa ke dokter bila
Di bawah 3 bulanDemam, apa pun keadaan anak
3 sampai 36 bulanSuhu 39 °C atau lebih, demam lebih dari 3 hari, atau ada tanda bahaya
Semua usiaSuhu lebih dari 40 °C, kejang demam, atau demam disertai ruam
Semua usiaDemam berulang lebih dari 7 hari, walaupun hanya beberapa jam setiap kalinya
Semua usiaMemiliki penyakit kronis, misalnya penyakit jantung, kanker, lupus, atau penyakit ginjal

Sebagai perbandingan, NHS memakai batas yang sedikit berbeda. NHS menyarankan orang tua segera mencari saran medis bila bayi usia 3 sampai 6 bulan bersuhu 39 °C atau lebih, dan bila demam berlangsung 5 hari atau lebih. Karena Anda tinggal di Indonesia, sebaiknya Anda berpegang pada panduan IDAI yang lebih ketat, yaitu lebih dari 3 hari untuk anak usia 3 sampai 36 bulan.

Tanda Bahaya: Segera ke IGD

Selain batas suhu, perhatikan kondisi anak secara keseluruhan. Menurut IDAI, bawa anak ke dokter atau IGD sesegera mungkin bila Anda melihat tanda berikut:

  • Anak tidak merespons, sulit bangun dari tidur, atau tidak bisa bergerak.
  • Anak kesulitan bernapas.
  • Bibir, lidah, atau kuku tampak kebiruan.
  • Ubun-ubun bayi tampak menonjol atau cekung.
  • Leher terasa kaku, atau anak mengeluh sakit kepala hebat.
  • Anak mengalami nyeri perut hebat atau muntah terus-menerus.
  • Muncul ruam atau bintik keunguan seperti memar.
  • Anak tidak mau makan atau minum dan tampak terlalu lemah untuk minum.
  • Anak menangis terus-menerus atau sangat gelisah.
  • Buang air kecil menjadi sedikit atau jarang.

NHS juga menambahkan tanda lain, misalnya tangan dan kaki terasa dingin tidak seperti biasa, atau kulit tampak pucat, kebiruan, atau belang.

Waspada Demam Berdarah di Musim Hujan

Di musim hujan, demam pada anak juga bisa menjadi gejala demam berdarah dengue (DBD). Menurut Kementerian Kesehatan RI, gejala DBD antara lain demam tinggi mendadak selama 2 sampai 7 hari, sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot, serta ruam. Uniknya, Kemenkes mengingatkan bahwa kondisi penderita justru bisa memburuk saat demam mulai turun, yaitu pada fase kritis.

Oleh karena itu, jangan langsung merasa tenang ketika suhu anak turun. Segera periksakan anak bila muncul nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, mimisan atau gusi berdarah, tubuh sangat lemas, tangan dan kaki dingin, atau penurunan kesadaran. Untuk pencegahan, Anda bisa membaca panduan menguras bak mandi untuk mencegah DBD.

Cara Merawat Anak Demam di Rumah

Bila anak masih aktif dan tidak menunjukkan tanda bahaya, Anda bisa merawatnya di rumah. Berikut langkah yang IDAI dan NHS sarankan:

  • Pertama, berikan banyak minum. Jika bayi masih menyusu, teruskan pemberian ASI.
  • Kedua, pantau aktivitas anak, termasuk apakah ia masih mau bermain, makan, dan minum. Menurut IDAI, periksa pula apakah anak buang air kecil setiap 3 sampai 4 jam.
  • Selanjutnya, kenakan pakaian yang nyaman. Jangan membungkus anak dengan baju tebal atau selimut berlapis.
  • Kemudian, hindari kompres dingin dan kompres alkohol. IDAI tidak merekomendasikan keduanya. Pelajari lebih lanjut perbedaan kompres hangat dan kompres dingin.
  • Selain itu, periksa kondisi anak secara berkala, termasuk pada malam hari.

Bagaimana dengan obat penurun panas? IDAI menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah membuat anak merasa nyaman, bukan mengembalikan suhu ke angka normal. Karena takarannya bergantung pada berat badan anak, ikuti anjuran dokter atau apoteker dan gunakan sendok takar khusus. IDAI juga menyarankan agar Anda tidak membangunkan anak yang sedang tidur lelap hanya untuk memberi obat.

Lalu, bagaimana dengan ramuan tradisional? Menurut IDAI, obat herbal belum terbukti secara ilmiah dapat menurunkan demam. Anda bisa membaca pembahasan lengkapnya di artikel benarkah bawang merah efektif untuk demam anak.

Kesimpulan

Singkatnya, sebagian besar demam anak bisa Anda pantau di rumah, tetapi segera ke dokter bila bayi berusia di bawah 3 bulan, suhu melewati 40 °C, demam lebih dari 3 hari pada anak usia 3 sampai 36 bulan, atau muncul tanda bahaya. Jadi, yang paling penting bukan hanya angka di termometer, melainkan kondisi anak secara keseluruhan. Mulai hari ini, simpan daftar tanda bahaya di atas agar Anda bisa bertindak cepat bila keadaan memburuk.

Sumber rujukan

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Demam: Kapan Harus ke Dokter?
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Penanganan Demam pada Anak.
  3. NHS. 2024. High temperature (fever) in children.
  4. Kementerian Kesehatan RI. 2026. Demam Berdarah Dengue: Pentingnya Deteksi Dini dan Penanganan yang Tepat.

Informasi di situs ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis, saran, atau perawatan dari tenaga kesehatan profesional. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter.