Virus menjadi penyebab utama batuk pilek pada anak, dan kondisi ini bisa membaik dengan sendirinya. Karena itu, perawatan di rumah berfokus pada istirahat, cukup minum, dan membuat anak lebih nyaman, bukan pada obat. Meski begitu, orang tua tetap perlu mengenali tanda yang membutuhkan pemeriksaan dokter. Artikel ini membahas penyebab batuk pilek, berapa lama biasanya berlangsung, cara merawat anak di rumah, obat yang perlu Anda waspadai, serta kapan harus ke dokter.
Apa Penyebab Batuk Pilek pada Anak?
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), orang dulu menyebut batuk pilek biasa sebagai selesma, atau common cold dalam bahasa Inggris. Selain itu, lebih dari 100 jenis virus bisa memicu selesma, dan penyebab tersering adalah rhinovirus. Jadi, IDAI menilai bahwa menyebut semua batuk pilek sebagai “flu” sebenarnya keliru, karena flu (influenza) hanyalah salah satu virus penyebabnya.
Selain itu, IDAI menjelaskan bahwa selesma sangat mudah menular lewat percikan saat penderitanya batuk atau bersin. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menyebut virus ini bisa menyebar ketika seseorang menyentuh permukaan yang tercemar, lalu menyentuh mata, hidung, atau mulutnya.
Kenapa Anak Sering Batuk Pilek?
Mungkin Anda heran mengapa anak Anda seolah tidak berhenti batuk pilek. Faktanya, CDC menyebut orang dewasa rata-rata terkena selesma 2 sampai 3 kali setahun, sedangkan anak-anak sering mengalaminya lebih banyak. Di samping itu, layanan kesehatan Inggris (NHS) menjelaskan bahwa gejala pada anak kecil bisa berlangsung lebih lama. Untuk memperkuat daya tahan keluarga saat cuaca berganti, baca juga cara menjaga daya tahan tubuh saat pancaroba.
Gejala dan Berapa Lama Batuk Pilek Berlangsung
Menurut NHS, gejala biasanya muncul bertahap dalam 2 sampai 3 hari. Gejala utamanya antara lain:
- Hidung tersumbat atau meler.
- Bersin-bersin.
- Sakit tenggorokan dan suara serak.
- Batuk.
- Badan terasa lelah dan tidak enak.
Pada anak kecil, NHS menyebut anak juga bisa rewel, sulit menyusu atau makan, sulit tidur, bernapas lewat mulut, dan muntah setelah batuk. Sebagian anak juga mengalami demam. Biasanya, NHS menyebut kondisi ini mulai membaik dalam 1 sampai 2 minggu.
Perlu Anda ingat, IDAI menjelaskan bahwa batuk sebenarnya adalah cara tubuh mendorong keluar lendir berlebih dari saluran napas. Artinya, batuk adalah gejala, bukan penyakit itu sendiri.
Cara Mengatasi Batuk Pilek pada Anak di Rumah
Oleh karena itu, NHS, CDC, dan IDAI menyarankan beberapa langkah berikut untuk membuat anak lebih nyaman:
- Pertama, pastikan anak cukup istirahat. Simak juga jam tidur ideal anak sesuai usia.
- Kedua, beri anak cukup minum, misalnya air putih, agar tidak kekurangan cairan. Pada bayi, lanjutkan menyusu seperti biasa. IDAI juga menyebut banyak minum membantu batuk menjalankan tugasnya mengeluarkan lendir.
- Selanjutnya, tawarkan makanan sehat. NHS mengingatkan bahwa nafsu makan anak kecil bisa turun selama beberapa hari, jadi jangan memaksanya.
- Kemudian, bantu melegakan hidung. CDC menyarankan semprotan atau tetes air garam (saline), dan pada anak kecil, alat penyedot ingus (bulb) untuk mengeluarkan lendir.
- Selain itu, jaga kelembapan udara dengan pelembap ruangan (humidifier) yang bersih, sesuai saran CDC.
- Terakhir, jauhkan anak dari asap rokok. NHS menyebut merokok bisa memperburuk gejala.
Untuk anak berusia 1 tahun ke atas, CDC menyebut madu dapat membantu meredakan batuk. Namun, jangan pernah memberi madu kepada bayi di bawah 1 tahun.
Hal yang Perlu Dihindari
Di sisi lain, beberapa kebiasaan yang tampak membantu ternyata tidak dianjurkan untuk anak. Berikut daftarnya menurut NHS dan CDC:
| Hindari | Alasannya |
|---|---|
| Madu untuk bayi di bawah 1 tahun | Tidak dianjurkan untuk usia ini (NHS dan CDC) |
| Obat batuk pilek bebas untuk anak di bawah 6 tahun | CDC menyebut obat ini dapat menimbulkan efek samping serius, bahkan mengancam nyawa |
| Obat pelega hidung (dekongestan) untuk anak di bawah 6 tahun | Tidak boleh dipakai pada usia ini (NHS) |
| Aspirin untuk anak di bawah 16 tahun | Tidak boleh diberikan (NHS) |
| Permen pelega tenggorokan untuk anak di bawah 4 tahun | Tidak dianjurkan (CDC) |
| Menghirup uap dari baskom air panas | Berisiko membuat anak tersiram air panas (NHS) |
| Minuman panas untuk anak kecil | Tidak dianjurkan (NHS) |
Untuk demam, CDC menyebut Anda boleh memberi anak kecil obat penurun panas, tetapi pastikan takarannya dengan tenaga kesehatan dan ikuti label kemasan. Selain itu, NHS mengingatkan agar tidak memberikan obat batuk pilek lain bersamaan dengan obat penurun panas, karena anak bisa mendapat dosis berlebih tanpa Anda sadari. Jadi, tanyakan dulu kepada dokter atau apoteker sebelum memberi obat apa pun. Bila anak demam, Anda juga bisa membaca perbedaan kompres hangat dan dingin.
Apakah Batuk Pilek Perlu Antibiotik?
Jawabannya, umumnya tidak. IDAI menjelaskan bahwa virus menjadi penyebab sebagian besar infeksi saluran napas atas, sedangkan antibiotik tidak bisa membunuh virus. Bahkan, menurut IDAI, antibiotik yang tidak perlu justru meningkatkan risiko kuman kebal antibiotik. Senada dengan itu, CDC menyebut antibiotik tidak membantu selesma dan bisa menimbulkan efek samping. Namun, CDC juga menjelaskan bahwa infeksi virus kadang dapat berlanjut menjadi infeksi bakteri seperti radang paru (pneumonia), yang memang memerlukan antibiotik dari dokter.
Kapan Anak Batuk Pilek Harus ke Dokter?
Segera bawa anak ke dokter bila muncul salah satu tanda berikut, menurut CDC dan NHS:
- Anak sulit bernapas atau napasnya cepat.
- Ada tanda kekurangan cairan, misalnya jarang buang air kecil atau popok jarang basah.
- Demam berlangsung lebih dari 4 hari (CDC) atau suhu sangat tinggi.
- Gejala tidak membaik setelah 10 hari.
- Gejala sempat membaik, lalu kembali muncul atau memburuk.
- Batuk berlangsung lebih dari 3 minggu.
- Anak punya penyakit kronis, seperti penyakit jantung atau paru.
- Anda khawatir dengan kondisi anak.
Pada bayi, terutama yang masih sangat muda, kenali juga batas suhu yang perlu Anda periksakan dalam artikel kapan demam anak harus ke dokter.
Cara Mencegah Penularan Batuk Pilek
- Pertama, biasakan seluruh keluarga mencuci tangan dengan sabun secara rutin, seperti saran NHS.
- Kedua, ajarkan etika batuk. IDAI menyarankan menutup hidung dan mulut dengan tisu atau lengan, bukan telapak tangan, saat batuk atau bersin.
- Selanjutnya, jangan berbagi handuk, gelas, atau mainan dengan anggota keluarga yang sedang sakit.
- Terakhir, hindari menyentuh mata dan hidung sebelum mencuci tangan.
Di samping itu, IDAI menjelaskan bahwa imunisasi influenza hanya melindungi dari virus flu. Artinya, anak yang sudah mendapat imunisasi flu masih bisa terkena batuk pilek dari virus lain.
Kesimpulan
Singkatnya, virus menjadi penyebab umum batuk pilek pada anak, dan kondisinya membaik dalam 1 sampai 2 minggu dengan istirahat, cukup minum, dan perawatan sederhana di rumah. Hindari obat batuk pilek bebas pada anak di bawah 6 tahun, jangan beri madu sebelum usia 1 tahun, dan jangan meminta antibiotik bila dokter tidak meresepkannya. Mulai hari ini, catat suhu dan gejala anak setiap hari agar Anda tahu kapan perlu membawanya ke dokter.
Sumber rujukan
Informasi di situs ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis, saran, atau perawatan dari tenaga kesehatan profesional. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter.
