Demam naik turun umumnya terjadi karena tubuh sedang melawan infeksi, misalnya infeksi virus. Selain itu, suhu tubuh memang berubah sepanjang hari, dan obat penurun demam biasanya tidak membawa suhu kembali normal. Namun, pola ini juga perlu Anda waspadai, karena tanda bahaya demam berdarah dengue (DBD) justru sering muncul saat demam turun. Artikel ini membahas penyebab demam naik turun, cara merawatnya di rumah, dan kapan anak maupun orang dewasa perlu ke dokter.

Kenapa Demam Bisa Naik Turun?

Pertama, demam adalah bagian dari pertahanan tubuh. Menurut Akademi Pediatri Amerika (AAP), demam menyalakan sistem imun dan membantu tubuh melawan infeksi. Karena itu, sebagian besar demam pada anak yang sakit justru bermanfaat, bukan berbahaya.

Kedua, suhu tubuh punya ritme harian. AAP mencatat suhu normal anak bisa naik hingga 37,9 °C (pengukuran lewat anus) menjelang sore atau malam. Jadi, wajar bila angka termometer pada malam hari lebih tinggi daripada pagi.

Ketiga, obat penurun demam bekerja terbatas. AAP menjelaskan obat ini umumnya menurunkan suhu sekitar 1 sampai 1,5 °C, tidak sampai normal, dan efeknya baru terasa setelah 1 sampai 2 jam. Dengan kata lain, target perawatan adalah membuat penderita lebih nyaman, bukan menghapus demam sepenuhnya.

Terakhir, penyebabnya sendiri memengaruhi pola demam. Pada infeksi virus, AAP menyebut demam biasanya berkisar 38,4 sampai 40 °C dan bisa berlangsung 2 sampai 3 hari. Sementara itu, beberapa penyakit seperti DBD dan tifoid punya pola yang perlu Anda kenali.

Demam Naik Turun dan DBD: Waspadai Saat Demam Turun

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut gejala DBD biasanya berlangsung 2 sampai 7 hari dengan demam tinggi sekitar 40 °C. Namun, WHO juga mengingatkan bahwa gejala DBD berat sering datang setelah demam reda. Senada dengan itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut tanda bahaya biasanya muncul 24 sampai 48 jam setelah demam berakhir.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan pola yang sama. Fase demam berlangsung 2 sampai 7 hari, lalu fase kritis paling sering terjadi pada hari ke-4 sampai ke-6, meski bisa mulai sejak hari ke-3 atau baru pada hari ke-7. Pada fase ini suhu turun mendekati normal, dan penurunan suhu inilah yang sering membuat orang terlambat berobat.

Oleh karena itu, segera bawa penderita ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya berikut setelah demam turun:

  • Nyeri atau nyeri tekan di perut.
  • Muntah terus-menerus. CDC menyebut patokan muntah 3 kali atau lebih dalam 24 jam.
  • Mimisan atau gusi berdarah.
  • Muntah darah atau BAB berdarah.
  • Badan sangat lemas atau gelisah, hingga kesadaran menurun.
  • Tangan dan kaki terasa dingin, seperti yang IDAI sebutkan.

Untuk pencegahan di rumah, Anda bisa mulai dari kebiasaan sederhana seperti menguras bak mandi secara rutin.

Apakah Panas Naik Turun Tanda Tifus?

Belum tentu. Menurut WHO, gejala khas tifoid atau tifus adalah demam tinggi yang berkepanjangan, bersama rasa lelah, sakit kepala, mual, sakit perut, serta sembelit atau diare. Bakteri penyebabnya biasanya menular lewat makanan atau air yang tercemar.

Namun, pola demam saja tidak cukup untuk menentukan penyebabnya. IDAI menjelaskan bahwa pada fase demam, DBD sulit dibedakan dari penyakit lain. Karena itu, WHO menyebut tifoid perlu pemastian lewat tes darah, dan CDC juga menyebut tes darah sebagai satu-satunya cara memastikan DBD.

Cara Mengatasi Demam Naik Turun di Rumah

Selama tidak ada tanda bahaya, Anda bisa merawat demam di rumah sambil memantau kondisinya. Berikut langkah yang Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) sarankan:

  • Berikan banyak cairan. Untuk orang dewasa, NHS menyarankan minum cukup sampai urine berwarna kuning muda dan jernih.
  • Tetap susui bayi bila ia menyusu ASI, dan tawarkan makanan bila anak mau makan.
  • Perbanyak istirahat dan sebisa mungkin tetap di rumah sampai demam reda.
  • Jangan membungkus anak dengan pakaian atau selimut berlapis-lapis.
  • Cek kondisi anak secara berkala, termasuk pada malam hari.

Selanjutnya, ukur suhu dengan termometer yang tepat lalu catat jam dan hasilnya. Catatan ini membantu dokter membaca pola demam bila Anda perlu berobat.

Soal obat, NHS menyarankan parasetamol atau ibuprofen bila penderita merasa tidak nyaman, bukan semata untuk menurunkan angka suhu. Selain itu, NHS tidak menyarankan memberi keduanya secara bergantian tanpa saran tenaga kesehatan, dan melarang aspirin untuk anak di bawah 16 tahun. Bila ada kemungkinan DBD, WHO dan IDAI menyarankan parasetamol serta menghindari ibuprofen dan aspirin karena bisa menambah risiko perdarahan. Untuk takaran, ikuti label kemasan atau tanyakan kepada dokter dan apoteker.

Bagaimana dengan cara tradisional? Anda bisa membaca ulasan kami tentang bawang merah untuk demam anak sebelum mencobanya.

Kapan Demam Naik Turun pada Anak Harus ke Dokter?

AAP menyarankan orang tua menghubungi dokter bila demam berlangsung lebih dari 24 jam pada anak di bawah 2 tahun, atau lebih dari 3 hari pada anak usia 2 tahun ke atas. Selain itu, segera periksakan anak bila:

  • Usianya di bawah 3 bulan dengan suhu 38 °C atau lebih.
  • Usianya 3 sampai 6 bulan dengan suhu 39 °C atau lebih, menurut NHS.
  • Demam berulang kali melewati 40 °C.
  • Demam kembali muncul setelah sempat hilang lebih dari 24 jam.
  • Anak masih tampak sakit walaupun demamnya sudah turun, atau kondisinya makin buruk.
  • Anak tampak dehidrasi, misalnya popok jarang basah, mata cekung, atau menangis tanpa air mata.

Sebaliknya, bawa anak ke IGD bila ia kejang, sulit bernapas, sangat sulit bangun, atau lehernya kaku. Begitu pula bila muncul ruam yang tidak memudar saat Anda tekan dengan gelas, atau kulit tampak kebiruan atau sangat pucat. Untuk batas suhu per usia yang lebih lengkap, baca kapan demam anak harus ke dokter. Bila demam muncul bersama batuk dan pilek, panduan batuk pilek pada anak juga bisa membantu.

Kapan Orang Dewasa Perlu ke Dokter?

NHS menyarankan orang dewasa mencari bantuan medis bila demam yang sudah Anda rawat di rumah tidak membaik atau justru memburuk. Selain itu, suhu yang sangat tinggi atau tidak kunjung turun bisa menandakan kondisi yang lebih serius. Karena itu, jangan abaikan tanda bahaya DBD di atas meskipun demam sudah reda.

Kesimpulan

Intinya, demam naik turun sering terjadi saat tubuh melawan infeksi, dan obat penurun demam memang tidak selalu membuat suhu normal. Meski begitu, turunnya demam bukan jaminan sembuh, terutama bila ada kemungkinan DBD. Mulai hari ini, catat suhu dan gejala secara rutin agar Anda bisa mengenali tanda bahaya lebih awal.

Sumber rujukan

  1. IDAI. 2019. Memahami Demam Berdarah Dengue (Bagian 2).
  2. WHO. 2025. Dengue and severe dengue.
  3. WHO. 2023. Typhoid.
  4. CDC. 2026. Symptoms of Dengue and Testing.
  5. American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org). 2025. Fever Without Fear.
  6. American Academy of Pediatrics (HealthyChildren.org). 2017. Fever (Symptom Checker).
  7. NHS. 2024. High temperature (fever) in children.
  8. NHS. 2023. High temperature (fever) in adults.

Informasi di situs ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis, saran, atau perawatan dari tenaga kesehatan profesional. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter.