Bau mulut paling sering berasal dari dalam mulut sendiri, yaitu sisa makanan dan bakteri yang menumpuk pada gigi, gusi, dan lidah. Karena itu, sebagian besar kasus bisa membaik dengan kebiasaan sederhana: menyikat gigi dua kali sehari, membersihkan lidah dan sela gigi, serta cukup minum air. Namun, napas tak sedap yang menetap juga bisa menjadi petunjuk masalah gigi atau kondisi lain. Artikel ini membahas penyebabnya, cara mengatasinya di rumah, dan kapan Anda perlu ke dokter gigi.
Apa Itu Bau Mulut atau Halitosis?
Dunia medis menyebut kondisi ini halitosis. Artikel Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes menjelaskan halitosis sebagai bau tidak sedap yang tercium saat seseorang mengembuskan napas. Sumbernya bisa dari dalam rongga mulut, tetapi bisa juga dari luar, misalnya saluran napas atau pencernaan.
Kabar baiknya, kondisi ini umum dan bisa menimpa siapa saja. Selain itu, kebanyakan penyebabnya mudah Anda kendalikan sendiri dengan perawatan gigi harian.
Penyebab Bau Mulut yang Paling Umum
Layanan kesehatan Inggris (NHS, National Health Service), Kemenkes, dan Mayo Clinic menyebut beberapa pemicu yang sering muncul. Berikut rangkumannya:
- Makanan dan minuman beraroma kuat. Misalnya bawang, rempah, dan makanan pedas. Menurut Mayo Clinic, senyawa dari bawang dan rempah bisa masuk ke aliran darah lalu terbawa ke paru-paru, sehingga aromanya ikut keluar lewat napas.
- Kebersihan gigi kurang terjaga. Sisa makanan yang tertinggal menjadi makanan bagi bakteri. Lama-kelamaan, plak yang lengket menumpuk dan bisa memicu radang gusi.
- Lapisan bakteri pada lidah. Bagian belakang lidah sering luput saat menyikat gigi, padahal bakteri juga senang bersarang di sana.
- Mulut kering. Air liur berfungsi membilas sisa makanan. Saat tidur, produksinya berkurang secara alami, sehingga napas pagi hari cenderung lebih tajam, apalagi bila Anda tidur dengan mulut terbuka.
- Masalah gigi dan gusi. Contohnya gigi berlubang, radang gusi, sariawan, atau luka setelah cabut gigi.
- Merokok dan alkohol. Rokok meninggalkan bau sendiri, bahkan perokok juga lebih rentan terkena penyakit gusi.
- Puasa atau pola makan sangat ketat. NHS memasukkan puasa dan diet ekstrem sebagai salah satu pemicu napas tak sedap.
Kenapa Mulut Tetap Bau padahal Sudah Sikat Gigi?
Pertanyaan ini sangat sering muncul. Biasanya, jawabannya ada pada bagian yang terlewat saat membersihkan gigi. Pertama, sikat gigi saja tidak menjangkau sela-sela gigi, sehingga sisa makanan bisa tertinggal di sana. Kedua, lidah yang tidak ikut Anda bersihkan tetap menyimpan bakteri.
Selanjutnya, karang gigi yang sudah mengeras tidak akan hilang hanya dengan sikat gigi. Kemenkes menyarankan pembersihan karang gigi secara berkala di dokter gigi. Selain itu, mulut kering karena kurang minum atau efek obat tertentu juga membuat napas tetap tajam meski Anda rajin menyikat gigi.
Bila Anda memakai gigi palsu, kebersihannya ikut berpengaruh. NHS menganjurkan Anda membersihkan gigi palsu setiap hari dan melepasnya saat tidur malam. Untuk langkah menyikat yang tepat, Anda bisa membaca panduan cara sikat gigi yang benar.
Cara Menghilangkan Bau Mulut di Rumah
Kabar baiknya, langkah berikut murah dan bisa Anda mulai hari ini. Semuanya bersumber dari anjuran NHS, Kemenkes, dan Mayo Clinic.
- Pertama, sikat gigi dan gusi dengan lembut selama 2 menit, minimal dua kali sehari, memakai pasta gigi berfluoride.
- Kedua, bersihkan lidah sekali sehari dengan pembersih lidah atau sikat yang lembut.
- Ketiga, bersihkan sela gigi minimal sekali sehari dengan benang gigi atau sikat sela gigi.
- Selanjutnya, cukupi minum air putih sepanjang hari agar mulut tetap lembap.
- Setelah menyantap makanan beraroma kuat, kunyah permen karet tanpa gula untuk merangsang air liur.
- Lalu, kurangi makanan dan minuman manis, serta batasi kafein dan alkohol.
- Selain itu, berhentilah merokok, karena rokok memperburuk napas dan kesehatan gusi.
- Terakhir, ganti sikat gigi setiap 3 sampai 4 bulan, atau lebih cepat bila bulunya sudah mekar.
Ada satu catatan kecil dari NHS: hindari langsung berkumur dengan air setelah menyikat gigi. Di samping itu, jangan menyikat terlalu keras sampai gusi atau lidah berdarah. Bila Anda ingin mengurangi asupan gula, panduan batas gula, garam, dan lemak harian bisa menjadi titik awal.
Minum Apa agar Napas Tidak Bau?
Jawaban paling sederhana adalah air putih. Faktanya, air membantu menjaga mulut tetap lembap sehingga sisa makanan tidak mudah menumpuk. Kemenkes juga menyarankan minum air yang cukup, sementara Mayo Clinic menyebut mulut yang lembap sebagai salah satu kunci napas segar. Anda bisa mengecek kebutuhan air putih harian di artikel kami sebelumnya.
Selain minum, Kemenkes menyebut buah renyah seperti apel, wortel, dan pir sebagai camilan yang bisa membantu. Sebaliknya, minuman manis, kopi, dan alkohol justru bisa memperburuk keadaan. NHS juga menyebut obat kumur antibakteri sebagai pilihan tambahan. Namun, obat kumur tidak menggantikan sikat gigi, dan bila gusi terasa perih setelah memakainya, Kemenkes menyarankan Anda segera menghubungi dokter gigi.
Bau Mulut Tanda Penyakit Apa?
Sebagian besar kasus berasal dari gigi, gusi, dan lidah. Meski begitu, ada juga penyebab di luar rongga mulut. Kemenkes menyebut radang tenggorokan, flu, amandel, asam lambung, dan sinusitis sebagai contohnya. Mayo Clinic juga menyebut batu amandel serta lendir yang mengalir dari hidung ke tenggorokan sebagai pemicu yang mungkin.
Lebih jarang lagi, napas berbau khas bisa berkaitan dengan gangguan metabolisme atau penyakit lain. Karena itu, napas tak sedap yang tidak membaik setelah perawatan rutin sebaiknya Anda periksakan, bukan Anda tutupi dengan permen atau parfum mulut saja.
Kapan Harus ke Dokter Gigi?
Segera buat janji dengan dokter gigi bila Anda mengalami hal berikut:
- Napas tetap tak sedap setelah beberapa minggu menjalankan perawatan di atas.
- Gusi terasa nyeri, berdarah, atau bengkak.
- Ada sakit gigi atau gigi dewasa terasa goyang.
- Gigi palsu terasa tidak pas atau menimbulkan masalah.
Nantinya, dokter gigi akan memeriksa sumber masalahnya. Bila ia mencurigai penyebab di luar mulut, ia bisa merujuk Anda ke dokter lain. Selain itu, Mayo Clinic menyarankan pemeriksaan dan pembersihan gigi rutin sekitar dua kali setahun.
Kesimpulan
Singkatnya, bau mulut umumnya berasal dari sisa makanan dan bakteri pada gigi, gusi, dan lidah, sehingga perawatan harian adalah kuncinya. Mulailah malam ini dengan menyikat gigi dua menit, membersihkan lidah, lalu menyela gigi dengan benang. Jika napas tetap tak sedap setelah beberapa minggu, periksakan diri ke dokter gigi.
Sumber rujukan
Informasi di situs ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis, saran, atau perawatan dari tenaga kesehatan profesional. Konsultasikan kondisi Anda dengan dokter.
