Tips Self-Care yang Wajib Dicoba Seorang Ibu untuk Cegah Burnout dan Hidup Lebih Bahagia
Menjadi ibu, istri, atau perempuan yang baru membangun rumah tangga sering terasa seperti berlari maraton tanpa garis finish. Kita terbiasa mendahulukan keluarga, pasangan, dan pekerjaan hingga lupa merawat satu orang yang paling penting: diri sendiri.
Apakah Anda pernah merasa lelah tak ada habisnya, mudah tersinggung, dan seolah energi benar-benar habis?
Banyak yang menanggapinya dengan santai, “Namanya juga jadi ibu, nanti juga hilang sendiri.” Hati-hati, ya! Psikolog menyebut kelelahan berkepanjangan ini sebagai Parental Burnout. Cara mengatasinya bukan selalu dengan liburan jauh-jauh, tapi dengan self-care.
Mari ubah cara pandang kita, bahwa self-care bukan sesuatu yang mewah. Tetapi Ini kebutuhan yang wajib Anda penuhi.
Parental Burnout: Saat Energi Benar-Benar Habis
Penelitian psikologi modern, termasuk di Indonesia, mengklasifikasikan kelelahan pengasuhan sebagai sindrom klinis dengan tiga ciri utama:
- Kelelahan Emosional: Anda merasa kosong, tidak punya tenaga atau kasih sayang tersisa.
- Depersonalisasi: Anda menjauh secara emosional dari peran sebagai orang tua. Interaksi dengan anak terasa hambar.
- Rasa Gagal: Anda merasa tidak cukup baik sebagai orang tua, meski sudah berusaha keras.
Jika Anda membiarkannya, parental burnout bisa memicu stres kronis, depresi, bahkan membuat pola asuh menjadi lebih keras.
Mengapa Self-Care untuk Seorang Ibu Penting
Self-care bukan hadiah setelah semua pekerjaan beres. Ini kewajiban agar Anda tetap sehat secara mental.
- Benteng Diri untuk Mengelola Stres (Coping Mechanism)
Riset tentang ibu bekerja di Indonesia menemukan bahwa self-care berhubungan langsung dengan kemampuan mengelola stres.
Menyisihkan waktu untuk diri sendiri bukanlah tindakan yang egois, melainkan cara mengisi ulang energi agar Anda bisa menghadapi hari dengan lebih sabar dan tenang. - Keseimbangan Emosi Orang Tua = Kesejahteraan Anak
Penelitian dari Universitas Padjadjaran menegaskan, orang tua yang mindful cenderung lebih hadir secara penuh saat bersama anak.
Anak belajar mengelola emosi dari orang tuanya. Jika Anda tenang, anak juga akan ikut stabil. Jika Anda terus stres, anak pun ikut menyerap ketegangan itu.
Self-Care yang Sederhana dan Realistis
Self-care tidak harus mahal atau mewah. Cukup 10–20 menit per hari bisa membuat perbedaan yang berarti.
1. Fisik (10 Menit)
- Tidur lebih teratur, matikan gadget 1 jam sebelum tidur.
- Minum kopi/teh dengan tenang tanpa gangguan.
- Jalan kaki atau peregangan ringan 5 menit.
2. Emosional (15 Menit)
- Ceritakan isi hati Anda pada pasangan atau sahabat tanpa takut dihakimi.
- Tulis jurnal harian, bisa dimulai dari menulis 3 hal yang disyukuri atau 1 hal yang bikin stres hari ini.
Oleh karena itu, mulailah merawat diri (self-care) sedini mungkin karena tidak pernah ada kata terlambat.
Ibaratnya, seperti aturan di pesawat: kenakan masker oksigen Anda terlebih dahulu sebelum menolong orang lain.
Ingatlah, kesehatan mental seorang ibu adalah fondasi keluarga. Saat seorang ibu meluangkan waktu untuk melakukan self-care bukan berarti egois, melainkan cara memastikan Anda bisa hadir dengan lebih sabar, tenang, dan penuh kasih untuk orang yang Anda cintai.
Dan yang paling penting, self-care bisa dimulai dari hal kecil, dengan 5 menit sehari. Sedikit demi sedikit, tubuh dan pikiran Anda akan merasa jauh lebih ringan, lebih bahagia, dan lebih siap menghadapi tantangan.
Referensi :
- Mafaza, dkk. 2022. Early Childhood Parenting: The Role Of Parental Mindfullness And Coparenting Competence In Parental Well-Being. 6(2), 130-139.
- Antara Kantor Berita Indonesia. 2023. Kapan Kita Sebaiknya Melakukan “self care” untuk Cegah Stres? . https://www.antaranews.com/berita/3858249/kapan-kita-sebaiknya-melakukan-self-care-untuk-cegah-stres
