Resistensi terhadap Antibiotik: Cek Sekarang, Jangan-jangan Kebiasaan Sepele Ini Membuat Anda Kebal Obat!
Kita semua pasti pernah sakit dan mengonsumsi antibiotik, obat yang ampuh melawan infeksi bakteri. Sayangnya, banyak orang masih membeli antibiotik di apotek atau toko obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Hal inilah yang memicu munculnya masalah besar yang semakin sering terdengar, yaitu resistensi terhadap antibiotik.
WHO memperingatkan bahwa pada tahun 2050, resistensi antimikroba dapat menyebabkan 10 juta kematian per tahun. Di Indonesia sendiri, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan 27,8% rumah tangga menyimpan antibiotik untuk swamedikasi, yaitu pengobatan sendiri tanpa resep atau pemeriksaan tenaga kesehatan. Angka ini menegaskan bahwa resistensi terhadap antibiotik bukan lagi isu jauh di luar negeri, melainkan ancaman nyata di sekitar kita.
Mengenal Resistensi Antibiotik
Antibiotik adalah obat untuk menangani infeksi bakteri. Jika kita menggunakannya sesuai anjuran tenaga kesehatan, manfaatnya besar. Namun, pemakaian yang sembarangan justru menimbulkan permasalahan pengobatan.
Bayangkan antibiotik sebagai pahlawan super yang datang untuk mengalahkan musuh (bakteri). Awalnya, pahlawan ini pasti menang. Akan tetapi, seiring waktu, beberapa bakteri yang “licik” menemukan cara bertahan hidup dan mewariskan kemampuan ini kepada keturunannya. Inilah yang kita sebut resistensi terhadap antibiotik. Dengan kata lain, bakteri jahat jadi kebal atau tahan banting terhadap obat yang seharusnya membunuhnya.
Mengapa Bakteri Menjadi Kebal?
Sebagian besar penyebab resistensi terhadap antibiotik berasal dari perilaku kita sendiri. Ada beberapa faktor utamanya:
- Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat: Banyak orang yang hanya karena flu atau sakit tenggorokan langsung meminta antibiotik atau meminum sisa obat lama. Padahal, flu disebabkan oleh virus sehingga antibiotik sama sekali tidak mempan. Kita yang mengonsumsi antibiotik padahal tidak diperlukan justru memberi kesempatan bakteri di dalam tubuh untuk “belajar” menjadi kebal. Hal ini menggambarkan rendahnya pemahaman masyarakat yang memicu resistensi terhadap antibiotik.
- Pembelian Bebas Tanpa Resep: Masyarakat bisa memperoleh antibiotik bebas tanpa resep dokter di beberapa tempat.
- Penghentian Pengobatan Sebelum Tuntas: Kebiasaan menghentikan pengobatan sebelum dosis tuntas juga fatal. Dokter menganjurkan agar kita menghabiskan semua antibiotik untuk memastikan semua bakteri mati. Jika kita berhenti di tengah jalan karena merasa sembuh, bakteri yang paling kuat akan tersisa dan berkembang biak menjadi semakin kebal terhadap antibiotik.
Dampak Negatif Resistensi
Dampaknya sangat serius. Resistensi terhadap antibiotik mengancam kemampuan untuk melakukan prosedur medis rutin. Operasi besar, cangkok organ, bahkan kemoterapi menjadi jauh lebih berisiko tanpa antibiotik yang efektif untuk mencegah infeksi.
Akibatnya:
- Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang kebal akan sulit diobati.
- Pasien harus menjalani perawatan lebih lama.
- Biaya pengobatan meningkat.
- Risiko kematian bertambah.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Menghadapi resistensi terhadap antibiotik, kita membutuhkan kombinasi edukasi masyarakat dan penegakan regulasi. Kita semua punya peran:
Peran Masyarakat (Pasien):
- Selalu berkonsultasi dengan dokter dan jangan pernah meminta antibiotik tanpa resep. Permenkes No. 28 Tahun 2021 juga menegaskan bahwa kita harus menggunakan antibiotik berdasarkan resep dokter.
- Jika dokter meresepkan antibiotik, habiskan seluruh dosisnya sesuai petunjuk meskipun sudah sembuh.
- Tingkatkan kebersihan diri dengan mencuci tangan secara rutin. Kita bisa menggunakan tindakan ini sebagai cara efektif mencegah penyebaran kuman, termasuk kuman yang sudah kebal.
Tindakan Pemerintah dan Tenaga Kesehatan:
- Pemerintah perlu memperketat pengawasan penjualan antibiotik agar tidak dijual bebas.
- Tenaga kesehatan mendorong apotek menolak pembelian antibiotik tanpa resep.
- Pemerintah memperbaiki sanitasi untuk mengurangi risiko infeksi bakteri.
Resistensi terhadap antibiotik adalah ancaman nyata yang semakin dekat. Ini bukan sekadar istilah medis, melainkan persoalan kesehatan publik yang menyentuh semua orang. Dengan kesadaran masyarakat, dukungan tenaga kesehatan, dan kebijakan pemerintah yang tegas, kita dapat menekan laju resistensi antibiotik di Indonesia. Mari kita jaga agar “pahlawan super” ini tidak kehilangan kekuatannya sehingga dapat tetap efektif melindungi kita dan generasi yang akan datang.
Referensi :
1. Nasrun, N.S.I., dkk. 2023. Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Orang Tua Terhadap Pemakaian Antibiotik pada Anak di RSUD Abepura. 3(12), 917-925.
2. Malaka, M.H., dkk. 2023. Peningkatan Pemahaman Dan Kewaspadaan Masyarakat Terhadap Kasus Resistensi Antibiotik Di Sma Negeri 2 Kendari. 2(1), 28-33.
3. Universitas Airlangga. 2025. Ancaman Resistensi Antibiotik di Indonesia yang Perlu Diwaspadai. Diambil dari : https://unair.ac.id/ancaman-resistensi-antibiotik-di-indonesia-yang-perlu-diwaspadai/
