Puting Lecet Saat Menyusui: Normal atau Tanda Ada Masalah?
Bagi banyak ibu baru, perjalanan menyusui sering kali penuh tantangan. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah puting lecet. Rasa nyeri, perih, bahkan hingga berdarah kerap dianggap sebagai “hal biasa” yang harus dilalui setiap ibu menyusui. Tidak jarang, orang di sekitar pun menenangkan dengan kalimat, “wajar kok, nanti juga terbiasa.”
Padahal, anggapan tersebut keliru. Puting lecet bukanlah proses alami yang seharusnya dialami ibu. Menyusui yang benar seharusnya terasa nyaman, bukan menyakitkan. Luka pada puting justru merupakan sinyal bahwa ada hal yang tidak tepat, baik dari teknik pelekatan, kondisi bayi, maupun perawatan payudara.
Kabar baiknya, puting lecet bisa dicegah dan diatasi. Dengan pemahaman yang benar serta dukungan tenaga kesehatan, ibu bisa menyusui dengan nyaman tanpa rasa sakit. Artikel ini akan mengupas tuntas seputar puting lecet dan bagaimana cara mengatasinya dengan benar.
Apa Itu Puting lecet ?
Puting lecet adalah kerusakan pada kulit puting yang dapat berupa kemerahan, pecah-pecah, luka terbuka, hingga berdarah. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa nyeri hebat saat menyusui dan mengganggu proses pemberian ASI.
Studi menyebutkan bahwa lebih dari 50% ibu menyusui mengalami nyeri puting pada minggu-minggu awal setelah proses melahirkan, sebagian besar terkait pelekatan yang tidak tepat (Bourdillon, et al .,2020).
Penyebab Puting Lecet
Puting lecet umumnya tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh berbagai faktor seperti di bawah ini :
1. Pelekatan salah: mulut bayi tidak menutup dengan benar pada areola.
2. Tongue-tie (ankyloglossida): kelainan bawaan pada mulut yang membatasi pergerakan lidah bayi, sehingga dapat menekan puting secara berlebihan saat menyusu (McClellan, et al., 2015).
3. Pemakaian pompa ASI yang tidak sesuai: corong pompa terlalu kecil/besar atau tanpa pelumas.
4. Infeksi jamur atau bakteri: menimbulkan rasa perih, gatal, hingga bernanah (Kent, et al., 2015).
5. Kebiasaan membersihkan puting dengan sabun berformula kuat: membuat kulit kering dan mudah pecah.
Dampak Puting Lecet
Selain menimbulkan nyeri, puting lecet juga dapat membawa dampak psikologis yang berpengaruh pada aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, kestabilan emosi, serta hubungan ibu dengan bayi (Kent, et al., 2015). Dan jika dibiarkan, puting lecet dapat menimbulkan masalah lebih serius, seperti infeksi, mastitis, hingga abses payudara.
Kondisi ini juga sering menjadi penyebab utama ibu berhenti menyusui lebih awal dari yang direncanakan (Bourdillon, et al ., 2020). Padahal, WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif minimal 6 bulan karena manfaatnya yang begitu besar bagi tumbuh kembang bayi dan kesehatan ibu.
Kapan Harus Mencari Bantuan ?
Puting lecet tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Segera cari bantuan apabila:
1. Luka terasa sangat perih hingga mengganggu proses menyusui.
2. Puting berdarah terus-menerus.
3. Ada tanda infeksi: bengkak, bernanah, gatal, atau demam pada ibu.
4. Bayi tampak kesulitan minum atau berat badan tidak naik.
Bagaimana Cara Mengatasi dan Mencegah ?
Puting lecet bukan berarti ibu harus berhenti menyusui. Dengan perawatan yang baik dan benar, ibu tetap bisa menyusui dengan nyaman sekaligus membantu puting sembuh lebih cepat.
1. Belajar tentang laktasi sejak masa kehamilan
Mengikuti kelas laktasi atau berkonsultasi dengan konselor menyusui membantu ibu memahami dasar menyusui, mulai dari posisi, perawatan puting, hingga langkah pencegahan masalah. Edukasi ini membuat ibu lebih siap dan percaya diri setelah melahirkan.
2. Perbaiki posisi dan pelekatan
Pastikan mulut bayi menempel dengan benar pada areola, bukan hanya ujung puting. Pelekatan yang tepat adalah kunci utama mencegah lecet.
3. Jaga kelembapan puting
Gunakan ASI perah sebagai pelembap alami atau oleskan krim khusus yang aman untuk ibu menyusui agar kulit puting tidak kering.
4. Frenulotomi
Jika puting lecet disebabkan oleh kondisi tongue-tie pada bayi, dokter dapat merekomendasikan prosedur kecil bernama frenulotomi, yaitu pemotongan lipatan bawah lidah untuk memperbaiki gerakan lidah bayi sehingga proses menyusu menjadi lebih nyaman (McClellan, et al., 2015).
5. Hindari penggunaan sabun yang mengandung alkohol atau bahan kimia berlebih
Membersihkan puting cukup dengan air hangat. Sabun atau cairan pembersih dengan kandungan keras bisa membuat kulit kering, pecah, dan lebih mudah lecet.
6. Berikan waktu istirahat pada puting
Jika puting terasa perih, ibu bisa memompa ASI sementara agar luka lebih cepat pulih.
7. Gunakan pelindung puting jika diperlukan
Nipple shield dapat menjadi solusi sementara, tetapi sebaiknya digunakan di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
8. Segera konsultasi jika luka berlanjut
Jika puting lecet tidak membaik, semakin parah, atau muncul tanda infeksi, segera periksakan diri ke tenaga kesehatan atau konselor laktasi.
Kemana Harus Mencari Bantuan ?
Jika langkah-langkah sederhana belum membantu, ibu tidak perlu merasa sendirian. Ada banyak sumber dukungan yang bisa menjadi jalan keluar dari masalah puting lecet.
1. Fasilitas kesehatan : puskesmas, rumah sakit, klinik bersalin.
2. Konselor laktasi : membantu memperbaiki pelekatan dan posisi menyusui.
3. Komunitas ibu menyusui : tempat berbagi pengalaman dan dukungan.
Puting lecet memang bisa menjadi tantangan dalam perjalanan menyusui, tetapi bukan berarti ibu harus menyerah. Dengan langkah pencegahan yang tepat, dukungan keluarga, serta bantuan tenaga profesional bila diperlukan, menyusui tetap bisa berjalan nyaman. Jadi, jangan ragu untuk mencari pertolongan bila nyeri tidak kunjung membaik, dan teruslah memberikan ASI demi tumbuh kembang optimal si kecil
