Orang Tua Wajib Tahu! Cara Cegah Campak pada Anak.
Angka kejadian campak di Indonesia masih tinggi. Menurut WHO, Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan kasus campak terbanyak di dunia. Penyakit ini menjadi perhatian serius karena masih sering terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa). Salah satunya di Kabupaten Sumenep, Madura, di mana sejak awal tahun 2025 dilaporkan lebih dari 2.000 kasus dan 20 anak meninggal dunia akibat campak.
Kasus ini menunjukkan bahwa campak bukan penyakit ringan. Campak merupakan salah satu penyakit infeksi paling mudah menular di dunia, yang menyebar melalui percikan liur saat penderita batuk atau bersin. Meskipun program imunisasi berhasil menurunkan angka kasus secara global, Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk mencapai target eliminasi campak.
Apa Itu Campak dan Gejalanya
Campak adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh Morbillivirus dari famili Paramyxoviridae. Campak masih menjadi salah satu penyebab utama kematian pada anak. Penyakit ini paling banyak menyerang anak usia pra-sekolah hingga sekolah dasar, terutama pada usia 5–9 tahun. Masa inkubasinya sekitar 10–14 hari.
Gejala campak biasanya diawali demam tinggi (lebih dari 38°C) yang berlangsung 3–7 hari dan muncul sekitar 10–12 hari setelah anak tertular. Demam disertai batuk, pilek, mata merah atau berair. Tanda khas yang sering muncul adalah bercak Koplik, yaitu bintik putih keabuan dengan dasar merah di bagian dalam pipi.
Setelah itu, ruam merah mulai muncul dari belakang telinga, menyebar ke wajah, leher, lalu ke seluruh tubuh. Ruam biasanya timbul saat demam sedang tinggi, bertahan 5–6 hari, lalu memudar meninggalkan warna kecoklatan atau kehitaman pada kulit.
Campak sangat mudah menular. Anak bisa tertular bahkan 4 hari sebelum ruam muncul sampai 4 hari setelah ruam terlihat pada penderita. Virusnya menyebar lewat udara ketika penderita batuk atau bersin, atau melalui percikan liur saat berbicara. Anak yang tinggal serumah dengan penderita, tinggal di lingkungan yang padat, atau belum pernah diimunisasi punya risiko paling tinggi tertular.
Pencegahan
Pencegahan campak yang paling efektif adalah melalui imunisasi.
1. Imunisasi MR/MRR (Measles-Rubella) diberikan pada usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun dan booster pada usia antara 15-18 bulan dan 5-7 tahun.
2. Pemberian vitamin A dilakukan 2x setahun dan merupakan program di posyandu, yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Pemberian vitamin A gratis untuk balita (usia 6-59 bulan) bisa didapatkan di posyandu atau fasilitas kesehatan lainnya, dengan dosis yang berbeda : Kapsul Biru (100.000 IU) untuk bayi 6-11 bulan. Kapsul Merah (200.000 IU) untuk balita usia 12-59 bulan.
Selain itu, beberapa penelitian menemukan bahwa pemberian ASI eksklusif dapat membantu menurunkan risiko campak pada bayi. ASI mengandung antibodi yang memberikan perlindungan kekebalan pasif, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan, sehingga bayi lebih tahan terhadap infeksi sebelum mendapatkan imunisasi pertama pada usia 9 bulan.
Memberikan anak nutrisi seimbang sangat penting untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, sehingga anak lebih siap melawan infeksi seperti campak. Dan tidak kalah penting, hidup bersih dan menjaga sanitasi serta hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit campak.
Komplikasi Campak
Campak bisa menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak yang masih sangat kecil (terutama di bawah 1 tahun), anak dengan gizi buruk, tinggal di lingkungan padat dan kurang bersih, anak dengan daya tahan tubuh lemah seperti pada kasus HIV atau penyakit serius lainnya, serta anak yang kekurangan vitamin A. Komplikasi yang sering terjadi meliputi:
1. Pneumonia : penyebab kematian terbanyak akibat campak.
2. Otitis media : infeksi telinga tengah.
3. Diare berat : berisiko menyebabkan dehidrasi.
4. Ensefalitis akut : peradangan otak yang dapat menyebabkan kerusakan permanen.
5. SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis) : komplikasi langka namun fatal yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal.
Peran Vaksin
Vaksin campak bekerja dengan merangsang kekebalan tubuh, baik melalui antibodi maupun sel imun. Antibodi mulai terbentuk sekitar hari ke-12 hingga ke-15 setelah vaksin diberikan dan mencapai puncaknya pada hari ke-21 hingga ke-28.
IDAI menekankan bahwa cakupan imunisasi minimal 95% sangat penting agar terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Kekebalan kelompok membantu memutus rantai penularan dan melindungi anak-anak yang belum cukup umur atau belum bisa mendapatkan imunisasi.
Penelitian lain juga menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara ketepatan jadwal vaksinasi dengan kejadian campak. Anak yang tidak mendapatkan vaksinasi tepat waktu memiliki risiko terkena campak hingga tujuh kali lebih besar dibandingkan anak yang diimunisasi sesuai jadwal.
Isu Kandungan Vaksin yang Dianggap Haram
Penerimaan vaksin tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kesehatan, tetapi juga oleh faktor sosial. Menurut sebuah penelitian, penerimaan vaksin dapat dipengaruhi oleh usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, status ekonomi, lingkungan tempat tinggal, serta pengaruh media massa dan budaya. Faktor-faktor ini berperan dalam keputusan orang tua untuk memberikan atau menunda imunisasi pada anak, sehingga edukasi perlu disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat.
Salah satu hambatan imunisasi yang sering muncul adalah penolakan sebagian orang tua karena menganggap vaksin mengandung bahan haram, seperti enzim dari babi. Untuk menjawab kekhawatiran ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa No. 4 Tahun 2016 yang menyatakan bahwa vaksin yang mengandung bahan haram pada dasarnya tidak boleh digunakan, kecuali dalam kondisi darurat, belum tersedia vaksin halal, dan ada keterangan dari tenaga medis bahwa tidak ada pilihan vaksin yang halal. Jika tanpa imunisasi seseorang berisiko mengalami kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen, maka imunisasi menjadi wajib.
Penyakit yang Mirip Campak
Tidak semua ruam dan demam berarti campak. Ada beberapa penyakit lain yang memiliki gejala mirip, sehingga sering membuat orang tua bingung. Mengenali perbedaannya penting agar anak mendapatkan penanganan yang tepat.
1. Rubella (Campak Jerman) : ruamnya lebih ringan dan tanpa batuk berat.
2. Roseola : ruam muncul setelah demam turun.
3. Parvovirus (Fifth Disease) : ruam merah pada kulit tanpa didahului gejala awal seperti demam, batuk, atau pilek.
4. Demam Scarlet : disertai sakit tenggorokan, tanpa bercak Koplik khas campak.
5. Penyakit Kawasaki: ditandai dengan demam tinggi, mata merah, dan ruam, tetapi tidak ada batuk maupun bercak putih di mulut seperti pada campak. Penyakit ini juga sering menyebabkan nyeri dan bengkak pada sendi, sesuatu yang tidak terjadi pada campak.
Jika anak mengalami demam tinggi disertai batuk, pilek, mata merah, dan ruam menyebar, segera periksakan ke tenaga kesehatan untuk memastikan penyebabnya.
Campak adalah penyakit yang bisa dicegah dan pengendaliannya sudah terbukti efektif melalui imunisasi. Dengan mengenali gejala sejak dini, menjaga kebersihan, memenuhi nutrisi anak, serta melengkapi imunisasi sesuai jadwal, kita dapat melindungi anak dari risiko sakit berat dan komplikasi berbahaya. Peran orang tua sangat penting untuk memastikan anak mendapatkan perlindungan terbaik agar dapat tumbuh sehat dan optimal.
Referensi :
1. Halim, R. G. 2016. Campak pada Anak. 43(3), 186-189.
2. Lestari, A. B., dkk. 2017. Ketepatan waktu vaksinasi campak sebagai faktor preventif kejadian campak di kota Yogyakarta . 33(5), 251-256.
3. Kemenkes. 2017. Imunisasi Campak dan Rubella Untuk Penuhi Hak Anak Indonesia. https://kemkes.go.id/eng/imuniasi-campak-dan-rubella-penuhi-hak-anak-indonesia
4. IDAI. 2019. Apakah Infeksi Campak?. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/apakah-infeksi-campak
5. Maulana, A. 2021. Aspek Klinis, Diagnosis dan Tatalaksana Campak pada Anak. 4(3), 21-27.
6. Simbolon, P. 2025. Faktor Resiko Penularan Campak pada Anak. 1(2), 49-54.
