Hati-hati Dengan Cacingan : Masalah Kesehatan yang Kembali Ramai Dibicarakan
Akhir-akhir ini, kasus cacingan kembali menjadi perhatian masyarakat setelah adanya pemberitaan mengenai seorang anak asal Sukabumi, Jawa Barat bernama Raya yang mengalami infeksi parasit tersebut. Walaupun sering dianggap penyakit ringan, cacingan sesungguhnya merupakan masalah kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup, terutama pada anak-anak.
Indonesia sebagai negara tropis dan sanitasi yang belum merata, memiliki kondisi yang mendukung penyebaran infeksi cacing. Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa kebiasaan hidup bersih dan sehat memiliki hubungan erat dengan kejadian penyakit ini. Artinya, cacingan bukan hanya soal medis, tetapi juga berkaitan dengan perilaku masyarakat sehari-hari.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai apa itu cacingan, siapa yang rentan, bagaimana cara penularan, serta langkah pencegahannya menjadi hal yang penting untuk diketahui bersama. Artikel ini akan membahasnya secara lebih lengkap berdasarkan data dan referensi ilmiah yang relevan.
Definisi Cacingan
Cacingan adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh masuknya telur atau larva cacing ke dalam tubuh manusia. Infeksi ini termasuk ke dalam kelompok Soil Transmitted Helminths (STH) yang penularannya terjadi melalui tanah.
Studi menemukan bahwa spesies utama yang banyak menyerang masyarakat adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), serta cacing kait (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). Di antara jenis-jenis cacing tersebut, Ascaris lumbricoides merupakan cacing terbesar dan paling sering menyebabkan infeksi. Dengan adanya cacing-cacing ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga bisa mencerminkan rendahnya kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih masyarakat.
Infeksi Cacing yang disebkan oleh cacing Ascaris lumbricoides umumnya ditandai dengan gejala seperti rasa tidak enak pada perut, diare, mual, muntah, berat badan menurun dan malnutrisi. Saat larva ada di paru-paru, bisa menyebabkan pneumonia (infeksi paru) dan eosinophilia (peningkatan jenis sel darah putih tertentu sebagai respons tubuh terhadap parasit).
Siapa yang Bisa Terinfeksi?
Siapa pun bisa terinfeksi cacingan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Namun, kasus paling banyak terjadi pada anak-anak karena kebiasaan bermain di tanah, tidak mencuci tangan, atau mengonsumsi makanan yang kurang bersih. Bahkan, ada penelitian yang menemukan anemia pada ibu hamil dapat disebabkan oleh infeksi cacing.
Dimana Umumnya Terjadi?
Infeksi cacing paling banyak ditemukan di wilayah beriklim tropis dan subtropis, terutama di negara berkembang seperti kawasan Asia dan Afrika. Indonesia sebagai salah satu negara tropis juga masih menghadapi tingginya kasus cacingan, baik di perkotaan maupun pedesaan (Lestari, 2022). Resiko ini semakin besar pada wilayah dengan sanitasi dan kebersihan yang buruk.
Penyebab Cacingan
Ada beberapa faktor risiko yang membuat seseorang lebih mudah terinfeksi cacing, antara lain:
1.Tidak mencuci tangan setelah buang air besar dan sebelum makan.
2.Kebiasaan bermain di tanah tanpa alas kaki.
3.Mengkonsumsi makanan/minuman yang terkontaminasi telur atau larva cacing.
Menurut penelitian, perilaku hidup yang tidak bersih dan sehat merupakan faktor utama terjadinya cacingan. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan harus dimulai dari pembiasaan perilaku sehari-hari yang lebih higienis, terutama pada anak-anak.
Bagaimana Cacing Bisa Berkembang Dalam Tubuh?
Siklus hidup Ascaris lumbricoides dimulai ketika telur cacing yang ada di tanah tertelan oleh manusia, misalnya melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Telur tersebut menetas di usus halus, lalu larvanya masuk ke aliran darah dan berpindah ke paru-paru.
Dari paru, larva naik ke tenggorokan dan ikut tertelan kembali ke dalam usus. Di usus halus, larva tumbuh menjadi cacing dewasa yang kemudian bertelur. Proses dari telur tertelan sampai menjadi cacing dewasa biasanya memakan waktu sekitar 2–3 bulan.
Cara Mengatasi dan Mencegah
Infeksi cacing biasanya masuk ke tubuh melalui tanah atau lingkungan yang tercemar, makanan atau minuman yang kurang bersih, serta kebiasaan menggigit kuku atau kontak dengan kotoran yang terkontaminasi.
Dampaknya tidak hanya menimbulkan keluhan pencernaan, tetapi beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa infeksi ini dapat menyebabkan anemia, menurunkan konsentrasi belajar, hingga berkontribusi pada kejadian stunting pada anak.
Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam mencegah dan mengobati cacingan pada anak, terutama anak yang masih kecil, sering bermain di tanah, menyentuh benda kotor sehingga mereka rentan terinfeksi cacing. Orang tua berperan sebagai pengawas dan pembimbing untuk membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini. Hal ini bisa menjadi upaya pencegahan, seperti :
1.Membiasakan cuci tangan pakai sabun, terutama setelah BAB dan sebelum dan sesudah makan.
2.Memastikan anak untuk selalu menggunakan alas kaki saat bermain di luar rumah atau berjalan di area tanah/kotor.
3.Memastikan makanan matang sempurna.
4.Mencuci buah dan sayur yang akan dimakan.
5.Menjaga kebersihan kuku dan lingkungan.
6.Membuang sampah di tempat sampah.
7.Memperbaiki cara dan sarana pembuangan feses.
Selain itu, orang tua juga berperan dalam pengobatan, yaitu dengan pemberian obat cacing sesuai anjuran medis, biasanya setiap 6 bulan sekali, terutama pada anak <6 tahun. Hal ini akan membantu mencegah infeksi berulang. Perhatian orang tua juga penting untuk memantau gejala seperti perubahan nafsu makan, gangguan pencernaan, atau tanda-tanda anemia, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Kementerian Kesehatan RI (2016) melalui program Gerakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) menekankan pentingnya kebiasaan sehat sehari-hari sebagai langkah awal pencegahan berbagai penyakit, termasuk cacingan. Dengan keterlibatan aktif orang tua, risiko anak terkena cacingan bisa diminimalkan, dan pertumbuhan serta perkembangan anak dapat berjalan dengan optimal.
Cacingan masih menjadi masalah kesehatan yang nyata di Indonesia, terutama pada anak-anak. Perilaku hidup bersih dan sehat menjadi kunci utama pencegahan. Dengan edukasi, penerapan PHBS, dan pengobatan rutin, resiko cacingan bisa ditekan sehingga kualitas hidup masyarakat meningkat.
