Gumoh Pada Bayi : Normal Atau Bahaya?
Gumoh adalah hal yang sering dialami bayi, terutama saat usianya masih sangat muda. Kondisi ini muncul karena saluran pencernaan bayi belum sempurna, sehingga susu yang sudah masuk ke lambung bisa kembali keluar lewat mulut. Biasanya gumoh ini tidak berbahaya dan akan berkurang seiring bertambahnya usia bayi. Meski begitu, orang tua tetap perlu waspada, sebab jika cairan gumoh naik ke saluran pernapasan dapat menyebabkan radang, membuat napas bayi terhenti sesaat, menimbulkan iritasi, wajah bayi tampak pucat karena kesulitan bernapas, hingga bayi tersedak atau batuk. Selain itu, bisa mengganggu kenaikan berat badan bayi jika gumoh terjadi terlalu sering.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa gumoh pada bayi adalah hal yang wajar dan bisa terjadi hampir setiap hari. Meski begitu, banyak orang tua yang masih bingung membedakan antara gumoh dan muntah. Keduanya memang terlihat mirip, tetapi berbeda dari segi penyebab, mekanisme, dan dampaknya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami perbedaan keduanya agar tidak sampai terlalu khawatir, tapi juga tidak mengabaikan tanda bahayanya.
Definisi Gumoh dan Bedanya Dengan Muntah
Gumoh adalah keluarnya sedikit susu dari mulut bayi tanpa kontraksi otot perut. Kondisi ini biasanya terjadi spontan setelah menyusu. Sementara itu, muntah merupakan keluarnya isi lambung secara paksa dengan kontraksi otot perut, sering disertai gejala lain seperti demam, diare, atau bayi tampak rewel. Seperti yang disampaikan Adhisty Y, dkk (2023) dalam penelitiannya bahwa, “Regurgitasi (gumoh) yaitu mengalirnya isi lambung (ASI) ke kerongkongan tanpa adanya usaha yang kuat seperti muntah”.
Penelitian lain juga menjelaskan bahwa gumoh biasanya hanya mengeluarkan susu dalam jumlah sangat sedikit, kurang dari 10 cc, sedangkan muntah umumnya mengeluarkan volume lebih banyak, lebih dari 10 cc. Dan gumoh yang terjadi terus-menerus berisiko naik ke saluran pernapasan hingga paru-paru. Kondisi ini dapat memicu gangguan serius seperti asma, pneumonia, radang paru, bahkan sindrom kematian bayi mendadak.
Penyebab Gumoh
Walaupun gumoh merupakan hal normal pada sebagian besar bayi, penting bagi orang tua untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat memicunya. Dengan memahami penyebabnya, orang tua bisa lebih mudah melakukan upaya pencegahan dirumah.
1. Usia bayi
Sistem pencernaan bayi (klep penutup lambung) masih belum sempurna, terutama pada usia 0–6 bulan. Hal ini membuat gumoh menjadi hal yang wajar.
2. Kekenyangan
Kapasitas lambung bayi masih kecil (sekitar 15-30 cc di awal kehidupan), sehingga jika bayi minum terlalu banyak, susu mudah keluar kembali.
3. Udara yang tertelan saat menyusu
Jika posisi mulut bayi tidak tepat saat menyusu, udara bisa ikut masuk. Udara ini membuat perut terasa penuh dan mendorong susu keluar.
4. Tidak disendawakan setelah menyusu
Bayi yang tidak disendawakan biasanya lebih sering gumoh karena udara yang terjebak dalam perut mendorong isi lambung ke atas.
5. Posisi tidur
Menidurkan bayi langsung telentang setelah menyusu dapat meningkatkan risiko gumoh. Posisi miring atau digendong sebentar lebih disarankan.
6. Tingkat pengetahuan ibu
Cara menyusui, posisi bayi, hingga kebiasaan setelah menyusu sangat dipengaruhi oleh pengetahuan sang ibu. Kurangnya pemahaman bisa membuat gumoh lebih sering terjadi.
Jenis Gumoh: Normal Atau Perlu Perhatian?
Gumoh fisiologis (normal): terjadi sesekali, bayi tetap nyaman, berat badan naik sesuai grafik, dan umumnya berkurang setelah usia 6 bulan.
Gumoh patologis (perlu perhatian): frekuensinya sangat sering, menyebabkan bayi rewel, malnutrisi, penurunan berat badan, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Cara Mencegah Atau Mengurangi Gumoh
Jika bayi sering gumoh, jangan langsung panik. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah atau mengurangi gumoh, dan penelitian membuktikan langkah-langkah ini cukup efektif.
1. Menyendawakan bayi setelah menyusu
Teknik menyendawakan bayi setiap kali selesai menyusu terbukti membantu mengurangi udara yang tertelan saat menyusu. Dengan begitu, tekanan dalam lambung berkurang dan risiko gumoh menjadi lebih kecil.
Sebuah studi mengungkapkan cara yang efektif untuk menyendawakan bayi, yaitu menggunakan posisi “over your shoulder”. Posisi ini dilakukan dengan meletakkan bayi di bahu dengan posisi badan tegak, dagu lebih tinggi dari bahu (mulut dan hidung tidak tertutup), kemudian punggungnya ditepuk atau digosok perlahan sampai bersendawa. Cara ini membantu udara keluar dari lambung lebih cepat, sehingga isi lambung tidak terdorong ke atas. Jika bayi belum bersendawa, baringkan bayi dalam posisi telentang sekitar 10–15 menit terlebih dahulu, lalu coba bantu bayi bersendawa kembali.
2. Melakukan pijat bayi secara rutin
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan frekuensi gumoh antara kelompok bayi yang mendapat pijat bayi dengan yang tidak, dimana pijat bayi yang dilakukan 2x sehari selama 1-2 minggu terbukti menurunkan kejadian gumoh.
3. Memperhatikan posisi menyusui yang benar
Posisi menyusui sangat berpengaruh terhadap terjadinya gumoh. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Posisi kepala lebih tinggi
Saat menyusui, usahakan posisi kepala dan leher bayi sedikit lebih tinggi daripada perutnya. Ini membantu susu turun dengan lancar ke lambung. - Perlekatan mulut yang baik
Pastikan mulut bayi menempel dengan benar pada puting dan areola, sehingga tidak banyak udara yang ikut tertelan. - Tubuh bayi menghadap ke ibu
Perut bayi sebaiknya menempel ke tubuh ibu (tummy to tummy), bukan hanya kepala yang diputar ke arah payudara. Karena sering tanpa disadari biasanya saat menyusui ibu tiduran miring sementara bayi telentang (hanya kepala bayi yang mengarah ke payudara ibu), ASI bisa saja tidak masuk ke saluran pencernaan dengan baik, melainkan ke saluran pernapasan, sehingga gumoh lebih mudah terjadi. - Posisi tegak setelah menyusu
Setelah selesai menyusu, gendong bayi dengan posisi tegak 10–15 menit sambil membantu bayi bersendawa, agar udara yang tertelan bisa keluar.
Gumoh pada bayi memang sering terjadi dan umumnya merupakan hal yang wajar. Namun, penting bagi orang tua untuk mengenali penyebab, langkah pencegahan, dan tanda bahaya yang harus diwaspadai, agar orang tua dapat lebih tenang sekaligus sigap dalam mengambil langkah tepat untuk menjaga kesehatan si kecil. Jika gumoh berlangsung terus-menerus atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Referensi :
1.Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. 2011. Posisi Menentukan Prestasi. https://aimi-asi.org/posisi-menentukan-prestasi/
2.Adhisty, dkk. 2023. Asuhan Kebidanan Berkelanjutan Pada Bayi Dengan Teknik Over Your Shoulder Untuk Mengurangi Regurgitasu Di PMB Catur Eni Sleman. 4(2).
3.Hasanalita, dkk. 2023. Efektivitas Pijat Bayi Terhadap Gangguan Gumoh Pada Bayi Umur 0-3 Bulan Di Latumi Health Care Padang.1(1), 69-75.
4.Natasya, dkk. 2025. Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Penyendawaan Pada Bayi Dengan Kejadian Gumoh. 7(3), 305-312.




