Fakta Medis di Balik Kematian Driver Ojol yang Tertabrak Rantis
Kabar duka akibat kecelakaan lalu lintas hampir setiap hari kita dengar. Mulai dari pengendara motor, pejalan kaki, hingga pengemudi mobil, semua beresiko menjadi korban di jalan raya. Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh kasus tragis yang menimpa seorang driver ojek online bernama Affan Kurniawan yang tertabrak kendaraan taktis (rantis) Brimob saat terjadi kericuhan demo di Jakarta. Meskipun detail penyebab pastinya tidak kita bahas di sini, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa tabrakan, apalagi dengan kendaraan besar, dapat mengakibatkan luka berat hingga kematian.
Fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Laporan Global Road Safety 2015 mencatat Indonesia menempati posisi ketiga di Asia (dibawah Tiongkok dan India) dalam jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas, dan bahkan peringkat pertama jika dilihat dari persentase populasi. Angka ini mencerminkan betapa seriusnya ancaman keselamatan di jalan raya, terlebih dengan pertumbuhan kendaraan yang tidak sebanding dengan perluasan jalan. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan penting, “apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh manusia ketika kecelakaan fatal semacam ini berlangsung?”.
Resiko Besar di Jalan Raya
Tabrakan dengan kendaraan besar seperti truk atau mobil memiliki dampak yang jauh lebih parah dibandingkan benturan antar-motor. Apalagi jika melibatkan kendaraan taktis (rantis), yakni kendaraan berlapis baja yang biasanya digunakan aparat keamanan dalam pengendalian massa. Dengan bobot dan kekuatan yang jauh melebihi kendaraan sipil, tabrakan dengan rantis hampir selalu menimbulkan luka berat hingga kematian.
Energi benturan yang besar bisa langsung merusak organ vital, bahkan meski luka luar terlihat tidak terlalu serius. Sebuah studi forensik di RS Bhayangkara (2024) menegaskan bahwa mayoritas korban kecelakaan lalu lintas adalah pengemudi sepeda motor usia produktif. Luka yang mereka alami umumnya berupa lecet pada tangan dan kaki serta memar di kepala. Fakta ini menggambarkan bahwa bagian kepala adalah salah satu area tubuh yang paling rentan ketika terjadi tabrakan.
Perspektif Medis Organ yang Rusak Saat Tabrakan
Dari sudut pandang medis, dampak tabrakan dapat dianalisis melalui visum maupun autopsi. Beberapa temuan dari jurnal nasional memperlihatkan gambaran umum sebagai berikut:
1. Kepala
Cedera kepala, seperti memar, perdarahan di dalam otak, atau patahnya tulang tengkorak, merupakan penyebab utama kematian pada kecelakaan lalu lintas. Penelitian di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2019–2020 oleh Hariyani, dkk (2023) menunjukkan bahwa cedera kepala adalah kasus yang paling sering ditemukan, yaitu pada 88% korban, dan menjadi penyebab kematian pada 77% kasus. Bahaya terbesar dari cedera kepala adalah pembengkakan otak, karena peningkatan tekanan di dalam rongga kepala dapat merusak jaringan otak. Perdarahan di bawah selaput otak kadang tidak langsung menyebabkan kematian, namun pembengkakan yang menyertainya sering kali lebih berbahaya dan fatal.
2. Dada dan Paru-Paru
Cedera dada sering kali berakibat fatal meski tidak selalu terlihat jelas dari luar. Benturan keras dapat menimbulkan memar pada jantung yang berisiko membentuk gumpalan darah, sehingga aliran oksigen ke jantung terhenti dan menyebabkan kematian mendadak. Selain itu, tekanan atau himpitan kuat pada dada bisa membuat paru-paru tidak mampu mengembang sehingga pernapasan terhenti (asfiksia mekanik).
3. Perut dan Organ Dalam
Cedera perut sulit dikenali dari luar karena sifat perut yang elastis membuat luka tidak selalu tampak jelas. Padahal, benturan keras, terutama pada kecelakaan yang melibatkan kendaraan berat seperti truk atau rantis bisa merusak organ dalam seperti hati. Kerusakan hati sering tidak langsung mematikan, tetapi beberapa jam kemudian bisa berakibat fatal akibat penumpukan darah (hematoma) yang akhirnya pecah. Inilah sebabnya korban kecelakaan perlu penanganan medis segera, meskipun dari luar terlihat baik-baik saja.
4. Ekstremitas (Tangan dan Kaki)
Cedera pada tulang atau sendi memang jarang menjadi penyebab kematian, tetapi penting untuk dipahami dalam mekanisme kecelakaan dan proses pengobatan. Pemeriksaan radiologis sangat membantu mendeteksi cedera ini. Karena cedera bisa terjadi secara tunggal maupun bersamaan dengan organ lain, pemeriksaan menyeluruh tetap diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti dari kematian.
Pentingnya Keselamatan dan Kewaspadaan
Temuan medis dari berbagai jurnal nasional di atas memberikan pesan kuat bahwa kecelakaan lalu lintas, khususnya tabrakan dengan kendaraan besar, merusak organ vital tubuh secara serius. Kepala, dada, dan organ dalam adalah area yang paling sering menjadi penyebab kematian.
Karena itu, keselamatan bukan hanya sekadar slogan. Tetapi kesadaran bersama di jalan juga penting. Tiga Cara Menjaga Keselamatan Berlalu Lintas menurut Menhub Budi Karya Sumadi:
1. Menjaga jarak aman dengan kendaraan lain.
2. Mengurangi kecepatan, karena penurunan 10% kecepatan dapat menekan risiko kecelakaan.
3. Menggunakan helm untuk melindungi kepala.
Selain itu, beliau menambahkan pengemudi harus berkonsentrasi penuh saat berkendara. Dan hindari perilaku tidak wajar di jalan, termasuk menggunakan handphone yang bisa mengganggu konsentrasi.
Cek kondisi kendaraan (rem, ban, lampu, klakson) sebelum berangkat. Penggunaan jaket dan sepatu tertutup juga membantu meminimalkan luka. Bagi pengemudi mobil atau truk, sabuk pengaman adalah langkah sederhana yang bisa menekan resiko yang fatal. UU No. 22 Tahun 2009 juga menekankan hal-hal penting lainnya, seperti nyalakan lampu utama siang dan malam agar lebih terlihat,gunakan jalur yang benar (hindari trotoar atau lawan arah), dan utamakan pejalan kaki di zebra cross.
Kesadaran ini sejalan dengan upaya pemerintah melalui Polri, Kemenhub, dan Jasa Raharja yang terus mengampanyekan keselamatan berlalu lintas. Namun, pada akhirnya, keberhasilan menjaga keselamatan ada di tangan kita masing-masing.
Tragedi kecelakaan yang menimpa pengemudi ojek online menjadi pengingat bahwa setiap orang di jalan raya menghadapi resiko. Benturan keras dari kendaraan besar bisa merusak organ vital tubuh manusia hingga menyebabkan kematian. Bukti medis dari jurnal nasional, mulai dari cedera kepala, trauma dada, hingga kerusakan organ dalam memperkuat betapa seriusnya dampak tabrakan.
Keselamatan di jalan bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan juga setiap pengendara. Dengan kewaspadaan dan kedisiplinan berlalu lintas, resiko fatal dapat diminimalkan. Jalan raya seharusnya menjadi ruang aman bagi semua, bukan tempat kehilangan nyawa.
Referensi :
1. Kristanto, E. dkk. 2018. Cedera Akibat Kecelakaan Lalu Lintas Di Kota Manado. 1(3), 180-184. https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/biomedik/article/view/833/651.
2. Kementrian Perhubungan Republik Indonesia. 2018. Menhub Berikan Tiga Tips Keselamatan Berlalu Lintas. https://dephub.go.id/post/read/menhub-berikan-tiga-tips-keselamatan-berlalu-lintas.
3. Hariyani, I.P. dkk. 2023. Gambaran Cedera Kepala Pada Korban Kecelakaan Lalu Lintas Di Bagian Bedah Rsup Dr. M.Djamil Padang Tahun 2019-2020. 3(1), 1-8. https://nusantarahasanajournal.com/index.php/nhj/article/view/873/715.
4. Mansyur, M. dkk. 2024. Pola Luka Pada Kasus Kecelakaan Lalu Lintasdi Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegaldi RS Bhayangkara Periode Januari –September Tahun 2024. 2(11), 938-945. https://ejournal.45mataram.or.id/index.php/armada/article/view/1587/1356.
