Ayah yang Hadir, Anak yang Tangguh: Manfaat Besar dari Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan
Dulu, orang sering menggambarkan ayah sebagai sosok yang sibuk bekerja di luar rumah. Tugas utamanya mencari nafkah, sementara mereka menganggap urusan anak sepenuhnya tanggung jawab ibu. Namun kini, cara pandang itu mulai bergeser seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
Ayah tidak lagi bisa kita anggap sekadar pelengkap. Ayah menjadi bagian penting saat membentuk karakter, memberikan dukungan emosional, sekaligus menjadi teladan bagi anak-anaknya. Mari kita bahas lebih dalam mengenai mengapa keterlibatan ayah dalam pengasuhan sangat dibutuhkan, dan bagaimana kehadirannya berpengaruh besar terhadap perkembangan anak dalam artikel ini.
Ayah yang Hadir, Anak yang Berkembang Lebih Baik
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan bukan sekadar “membantu” ibu, tetapi benar-benar menjadi bagian dari perjalanan tumbuh kembang anak.
Penelitian menunjukkan bahwa ayah yang aktif berinteraksi dengan anak mampu meningkatkan kepercayaan diri, prestasi belajar, dan kemampuan sosial mereka. Dukungan emosional dari ayah membuat anak merasa aman, lebih mudah beradaptasi, serta termotivasi untuk berkembang.
Kehadiran ayah juga membantu membentuk karakter anak. Melalui bimbingan dan kebersamaan sehari-hari, anak belajar nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kejujuran. Dengan kata lain, keterlibatan ayah dalam pengasuhan menciptakan fondasi kuat bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan percaya diri.
Ikatan Emosional yang Tak Tergantikan
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan memiliki peran emosional yang tidak bisa siapa pun gantikan, bahkan oleh ibu. Kehadiran ayah memberi warna tersendiri dalam kehidupan anak—menumbuhkan rasa aman, stabilitas emosi, serta kepercayaan diri.
Sebuah studi melalui program Sekolah Ayah menunjukkan bahwa ketika ayah mulai lebih peka terhadap kebutuhan emosional anak, hubungan mereka menjadi lebih hangat dan terbuka. Anak merasa dihargai, berani bercerita, dan lebih mudah mengelola perasaan.
Ayah hadir bukan untuk menyaingi peran ibu, tetapi untuk melengkapi. Jika kasih sayang ibu menenangkan, maka dukungan ayah meneguhkan. Kombinasi keduanya membantu anak tumbuh seimbang—lembut sekaligus kuat, percaya diri namun tetap empatik. Inilah bukti nyata bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan tidak hanya penting, tapi juga tak tergantikan.
Ayah Sebagai Teladan dan Cermin Karakter Anak
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, sikap ayah menjadi cermin pembentukan karakter anak. Ketika ayah bersikap sopan, jujur, dan bertanggung jawab, anak akan menirunya tanpa perlu banyak kata.
Perilaku sederhana seperti menepati janji, meminta maaf ketika salah, atau memperlakukan orang lain dengan hormat—menjadi pelajaran hidup yang berharga. Contoh kecil ini menumbuhkan karakter kuat dan integritas pada diri anak.
Selain itu, keterampilan yang ayah ajarkan, seperti mengatur waktu, memperbaiki barang, atau mengambil keputusan dengan tenang, memberi dasar kuat bagi anak untuk menjadi individu yang mandiri dan bertanggung jawab di masa depan. Melalui teladan dan tindakan nyata, keterlibatan ayah dalam pengasuhan menjadi investasi jangka panjang bagi karakter anak.
Tantangan yang Masih Menghambat
Sayangnya, tidak semua ayah memiliki kesempatan mudah untuk terlibat aktif. Budaya patriarki masih membuat sebagian besar ayah merasa bahwa pengasuhan adalah urusan ibu. Di sisi lain, tekanan pekerjaan juga membatasi waktu bersama anak.
Namun, perubahan tetap bisa terjadi. Dalam sebuah penelitian tentang Sekolah Ayah menunjukkan bahwa ketika para ayah diberi ruang untuk belajar, mereka mulai memahami pentingnya hadir secara emosional. Mereka menyadari bahwa seseorang tidak mengukur menjadi ayah dari seberapa banyak uang yang dibawa pulang, melainkan seberapa besar waktu, perhatian, dan kasih sayang yang ayah berikan.
Perubahan cara pandang ini menjadi kunci untuk memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan di masa kini.
Langkah Nyata yang Bisa Dimulai Hari Ini
Menjadi ayah yang terlibat tidak harus dimulai dari hal besar. Langkah kecil pun bisa membawa dampak besar bagi anak.
Mulailah dengan hal sederhana—temani anak sarapan, dengarkan ceritanya sebelum tidur, atau antar ke sekolah sambil berbincang ringan. Komunikasikan juga dengan pasangan agar cara mendidik anak tetap selaras.
Selain itu, dukung program atau komunitas yang mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan, seperti Sekolah Ayah atau kegiatan keluarga yang melibatkan peran kedua orang tua secara seimbang.
Anak tidak menuntut ayah yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan ayah yang hadir, mau mendengar, dan benar-benar terlibat. Ketika ayah melakukan itu, bukan hanya anak yang tumbuh lebih bahagia, tetapi keluarga juga menjadi lebih kuat, hangat, dan harmonis.
Karena sejatinya, menjadi ayah bukan sekadar nama di kartu keluarga, tetapi tentang bagaimana setiap langkah kecil hari ini membentuk masa depan anak.
Referensi:
Irawan, W. (2024). Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak di Keluarga Urban. 9(1), 11–22.
Universitas Airlangga. (2025). Menyoal Pentingnya Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak. Diambil dari https://unair.ac.id/menyoal-pentingnya-peran-ayah-dalam-tumbuh-kembang-anak
Karmila, M., dkk. (2025). Pandangan Orang Tua Mengenai Peran Ayah dalam Pengasuhan Pasca Partisipasi di Program Sekolah Ayah. 9(1), 155–164. Diambil dari https://obsesi.or.id/index.php/obsesi/article/view/6741/pdf
