3 Langkah Mengatasi Anak Susah Makan yang Wajib Dicoba Orang Tua!
Anak susah makan sering menjadi ujian kesabaran orang tua. Ketika anak menolak makanan, menutup mulut rapat, atau hanya memilih jenis makanan tertentu, kekhawatiran terhadap asupan gizi dan tumbuh kembang pun meningkat tajam. Seringkali, sulit makan bukan karena anak sengaja menolak, tetapi karena cara pemberian makan dan suasana di rumah belum mendukung kebiasaan makan yang nyaman. Untuk menghentikan drama ini, orang tua harus menerapkan strategi yang konsisten dan penuh kesabaran agar berhasil mengatasi anak susah makan.
Penyebab Anak Susah Makan
Anak dapat mengalami kesulitan makan karena berbagai faktor. Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya nafsu makan, gangguan proses makan di mulut, dan faktor psikologis berperan paling besar. Dari ketiga faktor tersebut, pola asuh dan cara orang tua memberi makan sangat memengaruhi kondisi psikologis anak. Anak sering menggunakan penolakan makanan sebagai bentuk kontrol diri ketika mereka merasa terlalu sering dikritik, ditekan, atau dibatasi.
Perilaku orang tua, terutama ibu, berperan besar dalam membentuk kebiasaan makan anak. Agar penanganan anak susah makan lebih efektif, orang tua perlu mengevaluasi dan memperbaiki beberapa perilaku utama berikut.
| Perilaku yang Harus Diperbaiki | Dampak Negatif |
| Pola Pemberian Makan | Memaksa anak menghabiskan makanan, menenangkan dengan jajanan, atau menjadikan makanan sebagai hadiah membentuk kebiasaan makan yang tidak sehat. |
| Variasi Makanan | Anak belajar dari “contoh”. Tidak memperkenalkan makanan baru atau jarang mengonsumsi sayur membuat anak menolak untuk mencoba. |
| Tekanan Saat Makan | Tindakan memaksa atau memarahi anak dapat menciptakan penilaian negatif. Akibatnya, anak menganggap waktu makan sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan dan semakin enggan makan. |
Mengenali Sinyal Lapar dan Kenyang Anak
Langkah penting berikutnya dalam mengatasi anak sulit makan adalah menguasai bahasa tubuh anak. Balita belum mampu menjelaskan rasa lapar atau kenyang, tetapi sinyal tubuh mereka memberikan petunjuk yang jelas.
Misalnya, saat anak menolak suapan atau menutup mulut, ia mungkin sudah kenyang atau merasa tidak nyaman dengan tekstur makanan. Sebaliknya, anak yang rewel atau mencari camilan di luar jam makan bisa jadi sedang lapar. Dengan memahami tanda-tanda ini, orang tua dapat menyesuaikan waktu makan dan menghindari paksaan yang justru memicu stres. Selain itu, hal ini juga melatih anak untuk mengenali rasa lapar dan kenyangnya sendiri sehingga anak makan berdasarkan kesadaran, bukan tekanan.
Tiga Langkah Mengatasi Anak Susah Makan
1. Terapkan Jadwal Makan yang Teratur
Konsistensi jadwal sangat membantu tubuh anak membangun regulasi internal. Anak belajar mengenali kapan harus lapar dan kapan kenyang.
- Tetapkan Waktu: Tetapkan 3 kali makan utama dan 2 kali camilan sehat dengan jarak minimal 3 jam.
- Batasi Asupan: Sediakan hanya air putih di luar jam makan. Cara ini mencegah lambung anak terisi penuh oleh susu atau makanan manis, sehingga nafsu makan optimal saat jam makan tiba.
2. Batasi Waktu Makan Maksimal 30 Menit
Orang tua tidak boleh membiarkan waktu makan berlarut-larut. Batasi durasi makan maksimal 30 menit. Jika anak belum selesai, hentikan proses makan dengan tenang. Aturan tegas ini melatih anak agar fokus pada makanan dan menjaga siklus lapar-kenyangnya tetap teratur.
3. Hindarkan Distraksi dan Ciptakan Suasana Positif
Ciptakan lingkungan makan yang tenang dan fokus.
- Matikan TV, singkirkan gadget, dan hindari mainan di meja makan.
- Ajak anak makan bersama keluarga. Anak adalah peniru ulung, dan makan bersama memunculkan ketertarikannya pada makanan yang disajikan. Suasana yang hangat dan bebas paksaan membuat anak merasa aman, sehingga ia lebih terbuka untuk mencoba makanan.
Mengatasi anak sulit makan bukanlah mencari resep ajaib, melainkan membangun kebiasaan makan yang sehat melalui keteladanan, kesabaran, dan disiplin. Ketika orang tua peka terhadap sinyal anak, menjaga rutinitas makan, dan menciptakan suasana positif, proses makan akan berjalan jauh lebih lancar.
Jika anak masih sulit makan dan pertumbuhannya terganggu setelah semua upaya ini, segera konsultasikan dengan dokter anak.
Referensi
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2015). Pentingnya Mengatur Jadwal Makan Anak.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2016). Sulit Makan Pada Bayi & Anak.
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2017). Penanganan Kesulitan Makan (Feeding Difficulty) pada Si Kecil.
- Setiarsh, D., dkk. (2020). Hubungan Perilaku Ibu Dalam Pemberian Makan Dengan Sulit Makan Pada Anak Usia 3-5 Tahun. 1(2), 1-5.
